Opini
Opini: Lulusan Vokasi Siap Kerja, Tapi Kerjanya di Mana?
Link and match tidak bisa berarti pendidikan bekerja keras menyesuaikan diri, sementara industri tinggal menunggu hasil.
Oleh: Luthfi Retriansyah, Bambang Abdu Syukur, dan M. Hery Yuli Setiawan
Mahasiswa Doktor Ilmu Pertanian Universitas Sebelas Maret, Surakarta, Indonesia.
“Link and match terlalu sering dirayakan sebagai keberhasilan kebijakan, padahal ujian sesungguhnya sederhana: apakah lulusan vokasi benar-benar masuk ke pekerjaan yang layak, sesuai kompetensi, dan punya masa depan.”
POS-KUPANG.COM - Setiap tahun, pendidikan vokasi menjual satu janji yang terdengar masuk akal yaitu lulusannya lebih siap kerja.
Mereka belajar praktik, magang, sertifikasi, bahkan dibiasakan dengan bahasa industri.
Tetapi sesudah wisuda, pertanyaan paling jujur justru muncul di depan pintu lowongan: kalau memang siap kerja, mengapa banyak yang tetap sulit mendapat pekerjaan yang sesuai?
Di situlah ironi pendidikan vokasi bekerja. Ia dirancang untuk memendekkan jarak antara sekolah dan pasar kerja, tetapi justru menyisakan jurang yang tidak kecil.
Data BPS memperlihatkan paradoks itu dengan gamblang: pada 2025, tingkat pengangguran terbuka lulusan SMK mencapai 8,63 persen, tertinggi dibanding jenjang pendidikan lain, sementara lulusan Diploma I/II/III berada di 4,31 persen.
Angka ini tidak berarti semua lulusan vokasi gagal terserap, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa jalur yang paling sering dipromosikan sebagai “siap kerja” belum otomatis menjadi jalur paling mulus menuju pekerjaan.
Karena itu, soal utamanya bukan lagi apakah pendidikan vokasi penting. Tentu penting.
Soalnya adalah apakah kebijakan link and match yang selama ini dibanggakan benar-benar bekerja sebagai jembatan nyata, atau baru sebatas slogan yang enak diucapkan dalam pidato, tetapi goyah ketika diuji di lapangan.
Baca juga: Opini: Hermeneutika Pancasila di Era Postmodern
Selama ini, link and match terlalu sering dipahami secara sempit. Ia direduksi menjadi kerja sama administratif: penandatanganan MoU, kunjungan industri, program magang, lalu selesai.
Padahal Kementerian Pendidikan sejak awal menekankan bahwa link and match harus menyentuh isi paling inti dari pendidikan vokasi, yakni kurikulum yang disusun bersama industri, kehadiran praktisi sebagai pengajar, magang terstruktur, sertifikasi kompetensi, dan komitmen nyata industri untuk menyerap lulusan.
Dalam kerangka revitalisasi vokasi, pendekatan yang lebih substantif bahkan digambarkan melalui arsitektur 8i: kurikulum bersama, pelatihan guru atau dosen, pembelajaran berbasis proyek nyata, riset terapan, pengajar dari industri, komitmen rekrutmen, magang terstruktur, dan sertifikasi kompetensi.
Masalahnya, di banyak tempat, yang hidup justru kulitnya, bukan isinya. Dokumen kerja sama ada, tetapi kurikulum tidak sungguh-sungguh berubah.
Daftar mitra industri panjang, tetapi guru dan dosen belum cukup sering mendapat pembaruan keterampilan dari tempat kerja yang sesungguhnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Luthfi-Retriansyah-02.jpg)