Cerpen
Cerpen: Pencuri Durian
Obrolan mereka bergeser ke pertanian dan hasil kebun, topik yang sering jadi santapan harian di desa itu.
Oleh: Krisogonus Kusman *
POS-KUPANG.COM - Selepas misa hari Minggu, Kereng Osep masih duduk di dalam kapela.
Ia berdoa sendirian di bangku bagian tengah. Ia menundukan kepala, tangan berkatup dan bibirnya komat-kamit melantunkan doa.
Entah apa yang ia doakan. Suaranya kecil. Tuhan saja yang tahu. Di altar, Pastor Rikar masih membereskan peralatan misa bersama bapak dewan stasi.
Kurang lebih lima menit kemudian, Kraeng Osep keluar. Di teras kapela, bapak-bapak seumuran Kraeng Osep masih berkumpul, bercerita tentang cuaca yang sulit dimengerti.
Baca juga: Cerpen: Dua Garis Hidup
Sedangkan ibu-ibu sudah pulang lebih dahulu. Barangkali buru-buru mau memasak untuk makan siang keluarga.
Hanya ibu Lina saja yang masih tersisa. Ia menemani suaminya, Guru Rofinus. Lagipula Ibu Lina tak sibuk urusan memasak. Mereka keluarga kaya.
Di rumah ada pembantu untuk urusan dapur. Tak perlu repot, pulang tinggal makan.
Kebetulan, Pastor Rikar turut bergabung dalam perkumpulan itu. Kraeng Osep mendekati sekaligus mau menyalami Pastor Rikar.
Obrolan mereka bergeser ke pertanian dan hasil kebun, topik yang sering jadi santapan harian di desa itu.
“Bagaimana durian tahun ini di sini, banyak ka?” tanya Pastor Rikar.
“Aiii... pastor, buahnya lebat sekali, tapi kebanyakan hilang,” jawab Om Rinuh.
“Kenapa bisa begitu?”
“Monyet terlalu banyak di kebun.”
“Iya, saya punya di belakang dapur juga begitu, Pastor. Selalu saja ada yang hilang, padahal tak ada monyet,” timpal Om Mikel, nada suaranya sedikit kesal.
“Setiap hari, durian jatuh lalu hilang. Saya sendiri belum pernah makan itu durian!”
Tak hanya Om Rinuh dan Om Mikel, Guru Rofinus juga mengeluh hal yang sama.
Lima pohon durian di kebunnya berbuah lebat, tapi setiap kali jatuh selalu saja hilang. Durian di desa itu tahun-tahun sebelumnya tak pernah hilang.
Baru tahun ini mengalami terjadi kehilangan.
“Kalau Kraeng Osep punya?” tanya Pator Rikar, sambil mengarahkan pandangan kepada Kraeng Osep.
Kraeng Osep tersenyum sambil garuk-garuk kepala. Malu saat ditanya Pastor Rikar. Ia sadar diri bahwa di kampung ini, hanya ia yang tak menanam durian.
“Dia tidak ada durian, pastor,” potong guru Rofius.
“Betul pastor. Di kampung ini hanya Kraeng Osep saja yang tak ada tanam durian,” sambung Om Rinuh.
Kraeng Osep tersenyum lagi, tak membantah sekata pun. Tapi ia tak seperti mereka, selalu mengeluh soal durian-durian yang hilang.
Barangkali Kraeng Osep satu-satunya orang di kampung itu yang tak pernah mengeluh saat musim durian tiba.
“Kraeng Osep suka makan durian?” tanya Pastor Rikar lagi.
“Iya pastor,” jawabnya dengan suara pelan. Suaranya hampit tak terdengar.
“Lalu kenapa tidak tanam? Jangan bilang karena malas,” ujar Pastor Rikar sambil tertawa, sekadar kelakar.
“Bukan, pastor. Itu hari saya pernah coba tanam, tapi selalu saja mati. Makanya saya tidak mau coba lagi.”
Pastor Rikar pamit pulang ke pastoran, karena harus memimpin misa di stasi lain. Waktu terbatas, meski obrolan masih hangat.
Pastor Rikar sadar bahwa membuat misa untuk umat yang sedang membutuhkan lebih diutamakan. Semua pun ikutan bubar, kembali ke rumah masing-masing.
Kraeng Osep belum ikutan pulang. Ia masih mondar-mandir di depan kapela, menunggu semuan pergi. Ia melangkah pelan menuju rumah.
Kebetulan rumahnya tak jauh di belakang kapela. Saat tiba, istrinya dan dua anaknya sudah menunggu di meja makan.
“Kau lama di mana? Kami sudah lapar menunggu!” gerutu istrinya. Suaranya garang.
“Makan saja kalau lapar. Tidak perlu tunggu saya. Macam orang baru saja,” balas Kraeng Osep sambil melepaskan baju kemeja batiknya.
“Tadi ketua KBG datang,” kata istrinya.
“Tidak ada ikan ka? Setiap hari cuma nasi dan sayur ubi. Babi sekalipun kalau makanan seperti ini terus pasti bosan juga,” kata Kraeng Osep, pura-pura tidak dengar apa yang baru saja disampaikan istrinya.
“Babi nih...! Miskin begini lagak mau makan lauk,” istrinya mengamuk.
“Belum lagi iuran tahunan paroki. Tiga tahun terakhir kita punya belum pernah bayar.”
Kraeng Osep terdiam. Ia terpaksa menghabiskan nasi di piringnya, lalu langsung meminum air.
Ia tak menjawab lagi amukan istrinya. Bukan karena ia takut, tapi sebagai kepala keluarga, ia tahu tanggung jawabnya atas segala kebutuhan rumah tangga.
“Berapa total kita punya tunggakan?” tanya kraeng Osep pelan.
“Enam ratus ribu. Ketua KBG bilang, kalau tak lunas segera, Apri tak diperkenankan menerima komuni pertama bulan depan,” jawab istrinya, matanya berlinang.
“Sembarang saja dia itu. Dia kira uang lebih penting dari sakramen suci?” gumam Kraeng Osep, pikirannya pusing.
Ia tak tega kalau Apri, anak keduanya itu tidak menerima komuni bulan depan. Ia takut, kalau Apri macam Ayu, kakaknya empat tahun lalu.
Hampir saja bunuh diri karena diancam batal menerima komuni pertama gara-gara masih ada tunggakan paroki.
Untungnya, waktu itu pinjam uang dari koprasi. Tapi sampai sekarang utang koprasi itu belum juga selesai dilunasi. Tiap minggu tagihan datang. Bunganya membengkak.
Sementara Kraeng Osep larut dalam pemikiran, seorang petugas koprasi muncul di pintu. Panik menyelimuti hatinya. Beban bertambah.
Bingung mau beri alasan apa dengan pegawai koprasi itu. Meskipun begitu, ia tetap bersikap ramah menyambut pegawai koprasi itu.
“Ite punya empat bulan terakhir belum pernah bayar. Hari ini bagaimana saja caranya uang harus ada. Besok pagi kalau tak lunas, rumah ini kami pasang plang,” kata pegawai koprasi itu dengan kesal.
“Iya pak. Saya tahu, tapi jangan plang rumah ini. Saya malu dicemoohin orang-orang di kampun ini. Sebentar saya usahakan uangnya dan segera transfer,” jawab Kraeng Osep penuh permohonan. Kraeng Osep lalu menawari minuman kepada pegawai koprasi itu.
“Tidak usah. Saya tidak mau tau, sebentar uangnya harus ada. Paling lama besok pagi uangnya sudah masuk rekening. Ingat itu!” pinta pegawai koprasi itu tegas, lalu pegi.
Kraeng Osep sedikit lega ketika pegawai koprasi itu pergi. Tapi hatinya tidak tenang. Ia bingung cari uang di mana.
Saat tengah malam, Kraeng Osep tidak bisa tidur. memikirkan uang untuk bayar koprasi. Pikirannya penuh bayangan plang di rumahnya.
Ia bangun dari tempat tidur dan langsung pergi ke dapur. Ia mengambil beberapa lembar karung goni, parang, sepatu bengkap dan topi.
“Kau mau ke mana tengah malam begini?” bentak istrinya.
“Curi durian di kebun Guru Rofinus.”
“Apa kau gila! Kalau ketahuan, mereka akan bunuh kau,” bentak istrinya, panik.
“Kau yang gila! Kau mau cari di mana lagi uang untuk bayar koprasi besok. Atau kau mau supaya rumah ini dipasang plang oleh koprasi dan kita diusir?”
Mereka bertengkar hebat. Kedua anaknya terbangun. Apri menangis ketakutan, tapi tak berani mendekat. Kraeng Osep hampir menebas istrinya dengan parang, untung saja istrinya cepat masuk ke kamar.
“Durian di kebun Guru Rofinus sudah mereka taruh obat! Burung bengkak baru kau tau nanti,” teriak istrinya dari dalam kamar.
“Omong kosong!”
“Terserah kau. Tapi, jangan mencuri. Tidak baik!”
Kraeng Osep abaikan celotehan istrinya. Ia keluar lewat pintu dapur menuju kebun durian Guru Rofinus. Kebun itu agak jauh dari kampung membuat ia nekat.
Tanpa senter, ia mengendap-endap menuju kebun itu, tapi jantungnya berdegup kencang. Saat tiba, ia begitu senang melihat durian berserakan di tanah. Ia mengumpulkan semuanya ke dalam karung. Dua karung goni penuh.
Hampir subuh, Om Rinuh dan Om Mikel mengendap pelan-pelan dari belakang. Kraeng Osep kaget melihat mereka berdua. Tubuhnya gemetar.
“Tenyata kau monyet pencuri durian selama ini. Pantasan durian orang-orang di kampun ini hilang,” kata Om Rinuh, marah sambil menarik kerah baju Kraeng Osep.
Om Rinuh dan Om Mikel disuruh Guru Rofinus menjaga kebun durian itu agar tak dimakan monyet.
Guru Rofinus kesal karena monyet biasanya memakan durian-durian, entah besar maupun kecil. Tapi malam itu bukan monyet, melainkan Kraeng Osep.
“Sudah berapa kali kau mencuri durian-durian ini?” tanya Om Rinuh
“Baru pertama kali,” jawab Kraeng Osep, lirih.
“Omong kosong! Kau jujur saja. Pasti kau curi durian saya juga,” tantang Om Mikel
Kraeng Osep berlutut, memohon agar jangan diberitahu ke orang-orang di kampung. Tapi mereka tak menjawab dan membawanya ke rumah Guru Rofinus.
Guru Rofinus kaget, seolah tak percaya. Ia mengenal Kraeng Osep seorang yang sopan dan jujur. Kraeng Osep berlutut lagi di hadapan Guru Rofinus, memohon ampun dan siap untuk ganti rugi.
“Maafkan saya, tuan guru. Saya bersalah, tapi jangan menghukum saya,” mohon Kraeng Osep, penuh kasihan.
“Kenapa kau curi?” tanya Guru Rofinus. Ia menyuruh Kraeng Osep untuk duduk di sampingnya.
Kraeng Osep menceritakan semua masalah yang sedang ia hadapi; utang koperasi mingguan yang mendesak dan iuran paroki yang menumpuk.
Hanya mencuri durian satu-satunya pilihan untuk melunasi semua utang itu. Guru Rofinus terharu dengan cerita Kraeng Osep.
“Kalau ada masalah dalam keluarga, omong baik-baik dan cari solusi yang lebih bijak. Jangan mencuri. Itu dosa besar,” kata Guru Rofinus.
Guru Rofinus pun memaafkan Kraeng Osep, bahkan membantunya untuk melunasi tunggakan koprasi dan iuran paroki. Mendengar itu, Om Rinuh dan Om Mikel tak terima.
“Tidak boleh begitu Guru Rofinus! Kraeng Osep itu pencuri. Harus dihukum!” kata Om Rinuh.
“Dia hanya berpura-pura sedih. Durian orang-orang di kampung ini hilang karena dia” tambah Om Mikel.
Guru Rofinus tersenyum dan menasehati Om Rinuh dan Om Mikel agar tidak mudah menghakimi.
Namun, mereka tetap tak terima. Lalu, mereka menceritakan ke semua orang di kampung bahwa Kraeng Osep adalah pencuri durian-durian yang selama ini hilang.
Selain keluarga Guru Rofinus, orang-orang di kampung itu menyebut keluarga Kraeng Osep sebagai keluarga pencuri.
Kraeng Osep dan istri serta kedua anaknya tak tahan membendungi setiap olokan itu.
Kraeng Osep bersama keluarganya memutuskan untuk keluar dari kampung dan pergi merantau. (*)
*) Krisogonus Kusman, biasa disapa Gonsi atau Gogon adalah seorang mahasiswa Filsafat semester VI pada Institusi Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero. Selain sebagai mahasiswa, Gonsi merupakan calon imam misionaris religius dalam Serikat Sabda Allah (SVD). Selama di Ledalero, Gonsi suka membaca dan menulis sastra khususnya cerpen.
Simak terus berita, cerpen dan artikel opini POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/petik-durian-ilustrasi.jpg)