Kamis, 14 Mei 2026

Cerpen

Cerpen: Perempuan yang Takut Menjadi Dosa

Ia meminta nomor WhatsApp-ku, lalu malam-malam kami perlahan dipenuhi percakapan panjang yang mengalir hingga dini hari. 

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Dion DB Putra
FOTO ILUSTRASI BUATAN AI
ILUSTRASI 

Oleh: Velisitas Niman *

POS-KUPANG.COM - Langit Manggarai pada malam hari selalu tampak seperti doa yang belum selesai diucapkan. 

Kabut turun perlahan dari punggung bukit, menelusuri jalan-jalan kecil, menyentuh atap rumah, lalu hilang bersama dingin yang menggigilkan kenangan. 

Dari tanah yang sunyi itulah kisah ini tumbuh bukan sebagai kisah cinta yang utuh, melainkan sebagai perjalanan batin tentang rasa bersalah, kehilangan, dan manusia-manusia yang diam-diam sedang mencari jalan pulang bagi dirinya sendiri.

Aku mengenal Milian pada tahun 2022, melalui sesuatu yang sederhana dan biasa saja: sebuah pesan di Facebook. 

Tidak ada pertanda apa pun bahwa percakapan kecil itu kelak menjelma menjadi kisah yang rumit. 

Ia meminta nomor WhatsApp-ku, lalu malam-malam kami perlahan dipenuhi percakapan panjang yang mengalir hingga dini hari. 

Baca juga: Cerpen: Di Hadapan Layar Kaca

Saat itu ia masih menjadi pembina asrama di sebuah lembaga pendidikan. Sedangkan aku bekerja sebagai homecare, hidup di antara aroma obat-obatan, rasa lelah, dan kesunyian yang sering datang setelah semua orang tertidur.

Di waktu yang sama, aku masih menjalin hubungan dengan Bartolomeus, seorang kapten kapal asal Toraja yang hidupnya lebih banyak di laut daripada di darat. 

Milian sendiri sedang mencintai Veronika, mahasiswi dari Kebe gego yang namanya sering disebutnya dengan nada lembut dan hati-hati, seperti orang menyebut sesuatu yang ingin dijaga tetap hidup.

Awalnya kami hanyalah dua orang asing yang saling berbagi cerita untuk membunuh sunyi. Namun malam-malam yang terlalu panjang sering membuat manusia membuka bagian dirinya yang paling rapuh.

Suatu malam, di sela suara angin dan jaringan telepon yang kadang putus-putus, Milian berkata pelan, hampir seperti bisikan kepada dirinya sendiri.

“Aku ingin keluar dari biara.”

Aku terdiam cukup lama.

Kalimat itu jatuh begitu saja ke dalam pikiranku seperti hujan pertama di tanah kering pelan, tetapi meninggalkan bau yang sulit dilupakan. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved