Cerpen
Cerpen: El Samoa
Lucky ingin bertanya kapan El Samoa akan berlayar lagi. Tapi ia tahu, larangan berlayar masih diperpanjang.
Oleh: Arie Putra *
POS-KUPANG.COM - 11 Januari 2026. Fatimah berdiri di Pelabuhan Marina. Pelupuk matanya basah. Angin laut meniup bau asin garam yang singgah di pipinya. Hujan pun turun menyapu kesedihan dan kenangan Desember.
***
Rumah-rumah tetangga kami di Labuan Bajo umumnya menyediakan kipas angin di ruang tamu. Alat kecil itu selalu dinyalakan tanpa henti.
Di luar, langit seperti kosong. Hanya rambatan panas yang menyerap ke seisi ruangan.
Setiap orang pasti mengeluhkan udara panas itu. Maka, kipas anginlah yang diandalkan saat tamu berkunjung.
Baca juga: Cerpen: Perempuan yang Takut Menjadi Dosa
Selain hawa panas bulan Desember, kejadian tenggelamnya KM Putri Sakinah dua hari lalu menjadi pokok pembicaraan di teras rumah.
“Padahal di hari itu tidak hujan. Panas seperti sekarang ini. Tapi cuaca tiba-tiba berubah di laut. Sial betul.” Vento percaya jika kejadian itu memang murni kehendak alam Labuan Bajo.
Ia juga menjadi waswas jika seandainya ia mengalami hal itu. Sebab Vento bekerja di kapal El Samoa yang memiliki jadwal trip padat selama bulan Desember.
“Tanggal berapa kalian jalan lagi?” Lucky menyambar.
“Besok ini sebenarnya. Tiga hari dua dan malam. Trip terakhir tahun ini. Tapi Taman Nasional Komodo tutup to’!” Vento menimpali.
Tapi walau begitu, Lucky tidak meragukan penghasilan crew Kapal El Samoa ini. “Beli rokok dulu kah, bro!” pintanya dengan nada perintah.
Vento sudah lama tidak minum sopi. Ia pernah pulang dadakan saat trip karena lambungnya kumat.
Beruntung ada Fatimah yang menyediakan obat herbal dari kunyit dan madu. Lambungnya berangur-angsur pulih saat rutin konsumsi obat herbal.
“Maaf e bro, saya tidak siapkan sopi. Minum bir saja.” Lucky dan kawan-kawannya yang lain dijamu dengan bir.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Ilustrasi-kapal-di-Padar.jpg)