Senin, 18 Mei 2026

Cerpen

Cerpen: Dua Garis Hidup

Setelah itu Rani melanjutkan perjalanannya ke arah matahari terbenam. Ia bergumam dalam hati, “apakah aku berada pada pilihan yang tepat?”

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Dion DB Putra
FOTO ILUSTRASI BUATAN META AI
ILUSTRASI 

Oleh: Oktavianus Saroyan Joat *

POS-KUPANG.COM - Perjalanannya mulai dari situ. Titik gerimis dan pekatnya kabut menambah hening pagi itu. Saat telapak kaki mulai membelah jalan sedang mata dikelilingi embun karena kabut. 

"Takut?" tanya seorang tua yang sejak subuh sudah ada di permukaan jalan sambil memperhatikan lengkungan garis pada aspal. Ia terdiam, sambil menarik napas karena merasa kaget. 

"Bukan takut, hanya saja aku merasa kaget ada-ada saja manusia seaneh dirimu. Pagi masih buta namun kau memilih tinggal menikmati kabut dan gerimis". 

Lelaki itu terus berjalan ke arahnya dan tertawa kecil, lalu berkata, "Kau adalah bagian dari setumpuk pemikiran yang takkan pernah maju." 

"Apa maksudmu?" Rani menjawab sambil mengerutkan dahinya. 

"Dunia ini penuh dengan tantangan, jika kau menunggu tanpa alasan, sampai mendung dan gerimis ini reda, kau tak akan pernah pulang dengan membawa segudang mimpimu yang telah kau doakan sejak dulu". 

Setelah itu Rani melanjutkan perjalanannya ke arah matahari terbenam. Ia bergumam dalam hati, “apakah aku berada pada pilihan yang tepat?”

Pada hari kedua ia kembali terbangun dari tidur, menapaki aspal yang penuh dengan genangan air sisa hujan semalam. 

Terlihat seorang tua sedang memukul lonceng gereja sedang yang lain mengatupkan tangan sambil berjalan menuju gereja. Sembahyang. 

Pada hari ketiga ia keluar dari rumah tepat pada pukul  21.00. Ia sengaja keluar agak malam untuk melihat lampu kota yang sedikit terang. 

Sesampainya di simpang jalan kota, ia melihat banyak perempuan paruh baya sedang keluar dan masuk ke dalam pintu gedung bertulis Diskotik Kota. 

Seorang di antara mereka sedang berusaha mengambil sebatang rokok dari saku samping jaketnya lalu membakar dan menariknya.  

Kini tersirat kalimat tanya dalam hatinya tentang ada apa di dalam pintu Diskotik Kota?  

Diskotik Kota

Ia masuk ke dalamnya, melihat dan mengamati setiap pergerakan manusia di dalamnya seperti peneliti yang sedang mencari data tesis. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved