Minggu, 26 April 2026

Opini

Opini: Involusi Modal Manusia Sumba dan Paradoks Gengsi Kematian

Di balik eksotisme yang memukau dunia, Sumba umumnya khususnya Sumba Barat sedang mengalami pendarahan aset produktif yang masif. 

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI FRANS GANA
Frans Gana 

Berkaca dari negara lain seperti jepang yang berhasil memadukan budaya dan kemajuan ekonomi. 

Transformasi Menuju Adat Cerdas

Sebagai akademisi, kami menawarkan langkah strategis untuk menyelamatkan Sumba dari kebangkrutan sosial. 

Pertama, perlu dibentuk lembaga dana kolektif komunitas atau Community Ritual Funds untuk menanggung biaya ritual, meniru praktik parsahutaon di Batak.

Model ini dapat mengurangi beban individu sekaligus memperkuat solidaritas sosial.

Kedua, pembentukan Bank Lahan dan Ternak berbasis koperasi sangat mendesak. Aset tanah dan ternak dikelola secara produktif untuk memenuhi kebutuhan ritual tanpa harus menjual atau menggadaikan lahan produktif, terinspirasi dari praktik masyarakat pastoral Afrika Timur.

Ketiga, kita harus mereformasi tolok ukur kepemimpinan adat. Para elit adat diharapkan menjadi teladan dalam menerapkan moderasi ritual. 

Kehormatan seorang pemimpin tidak lagi diukur dari kemewahan pesta, melainkan dari kemampuannya menautkan pelaksanaan upacara dengan tujuan kesejahteraan masyarakat luas.

Kita harus berhenti menjadikan orang mati sebagai raja yang memiskinkan orang hidup.

Penghormatan tertinggi kepada Marapu adalah dengan membangun generasi Sumba yang cerdas, mandiri, dan bermartabat, yang tidak lagi menjadi hamba utang di tanah leluhurnya sendiri. (*)

*) Frans Gana  adalah guru besar, akademisi senior FISIP Universitas Nusa Cendana Kupang.

*) Umbu Reku Raya, MM, Ph.D merupakan peneliti, alumni The Australian National University.

Simak terus berita dan artikel opini POS-KUPANG.COM di Google News 

 

 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 4/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved