Opini
Opini: Involusi Modal Manusia Sumba dan Paradoks Gengsi Kematian
Di balik eksotisme yang memukau dunia, Sumba umumnya khususnya Sumba Barat sedang mengalami pendarahan aset produktif yang masif.
Fakta lapangan juga menunjukan terdapat masyarakat justru melaksanakan upacara dengan pengorbanan puluhan sampai ratusan ekor ternak.
Elit menggunakan ritual mewah sebagai panggung demonstrasi kekuasaan, yang secara tidak langsung menciptakan standar sosial baru bagi masyarakat bawah.
Rakyat kecil akhirnya terjebak dalam kompetisi status yang tidak seimbang karena cenderung meniru perilaku pemimpinnya.
Tanpa keteladanan radikal dari para pemimpin, regulasi apa pun hanyalah macan kertas yang tidak mampu mengubah norma sosial.
Distorsi Makna Filosofi Marapu
Ironisnya, perilaku boros ini justru berpotensi mengkhianati nilai luhur leluhur Sumba itu sendiri.
Filosofi Marapu sejatinya mengajarkan nilai kerja keras dan ketahanan ekonomi, seperti tertuang dalam ungkapan “na mira bei we taha jalu” yang menggambarkan hidup berkelimpahan seperti air di tempayan yang tumpah karena penuh.
Leluhur mengajarkan bahwa pesta besar hanya boleh dilakukan jika lumbung padi sudah penuh dan ternak sudah berlebih karena hasil kerja keras, bukan hasil berutang.
Kini yang terjadi adalah distorsi nilai, di mana masyarakat memaksakan kemewahan melalui utang spekulatif.
Bahkan ada fenomena membeli beras di toko dengan cara berutang demi memberi makan tamu pesta, sebuah praktik yang jauh dari prinsip kemandirian pangan leluhur.
Komparasi Strategis dalam Negeri Misalnya Suku Batak dan Baliserta Berkaca Pula pada Negara Luar Misalnya Jepang.
Sumba tidak perlu membuang adatnya, tetapi harus melakukan rekayasa ulang tata kelolanya melalui studi banding dengan etnis lain.
Masyarakat Batak memiliki sistem gotong royong kekerabatan atau clan pooling yang memungkinkan pembagian beban biaya secara kolektif.
Sementara itu, masyarakat Bali dan Toraja berhasil mengintegrasikan ritual dengan industri pariwisata sehingga memberi nilai ekonomi tambahan.
Sebaliknya, Sumba masih mempertahankan ritual berbiaya tinggi tanpa adanya sumber pendapatan timbal balik dari luar komunitas.
Tanpa adanya integrasi ekonomi atau mekanisme asuransi sosial, ritual di Sumba justru menjadi beban yang menguras modal rumah tangga dan memperdalam kemiskinan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Frans-Gana-01.jpg)