Opini
Opini: Banjir Keyakinan, Krisis Kebenaran
Kita hidup dalam zaman di mana semua orang bisa berbicara, tetapi tidak semua orang terbiasa memeriksa.
Kemarau Pembuktian di Tengah Generasi Global
Oleh: Fidel Darso
Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang. Saat ini tinggal di Skolastikat Hati Maria Kupang, NTT.
POS-KUPANG.COM - Di era digital, manusia hidup dalam paradoks yang belum pernah terjadi sebelumnya: informasi melimpah, tetapi kebingungan juga ikut melimpah.
Kita tidak lagi menghadapi kelangkaan pengetahuan, melainkan kelimpahan keyakinan yang tidak selalu berakar pada kebenaran.
Dalam situasi seperti ini, yang sedang mengalami krisis bukan sekadar informasi, tetapi cara manusia membangun pengetahuan.
Baca juga: Opini: Menjaga Mutu Undana di Balik Layar WFH
Generasi digital hari ini tidak kekurangan opini. Sebaliknya, mereka hidup dalam banjir keyakinan.
Setiap orang dapat menyampaikan pandangan, setiap peristiwa dapat ditafsirkan, dan setiap isu dapat diproduksi ulang menjadi berbagai versi kebenaran.
Namun di balik kebenaran itu, muncul satu persoalan mendasar; apakah semua keyakinan tersebut? Dan bagaimana kita mengetahuinya?
Dalam tradisi epistemologi, pengetahuan dipahami sebagai justified true belief, keyakinan yang benar dan dapat dibuktikan.
Tiga unsur ini membentuk satu kesatuan; keyakinan sebagai titik awal, kebenaran sebagai tujuan, dan pembuktian sebagai jembatan. Namun dalam ekosistem digital saat ini, jembatan itu semakin rapuh.
Banjir Keyakinan: Ketika Opini Menggantikan Otoritas Pengetahuan
Media sosial telah mengubah lanskap otoritas pengetahuan secara fundamental. Jika dahulu kebenaran banyak ditopang oleh institusi-universitas, media arus utama, atau lembaga ilmiah, hari ini otoritas itu terdistribusi ke jutaan individu.
Setiap pengguna internet dapat menjadi sumber kebenaran. Sebuah unggahan singkat, video pendek, atau potongan narasi dapat dengan cepat menyebar dan diterima sebagai fakta, bukan karena telah diuji, melainkan karena telah dilihat dan dibagikan secara luas.
Di titik ini, kita menyaksikan apa yang disebut sebagai banjir keyakinan. Keyakinan tidak lagi menunggu pembuktian.
Ia bergerak lebih cepat daripada verifikasi. Sesuatu dianggap benar bukan karena telah diuji secara rasional, tetapi karena terasa masuk akal, sesuai emosi, atau didukung oleh banyak orang.
Generasi digital tumbuh dalam logika ini. Mereka terbiasa bahwa kecepatan kerap kali lebih penting daripada ketelitian.
| Opini: Perairan NTT Tak Sekadar Terkait Perut Rakyat Namun Sumber Kedaulatan Ekonomi |
|
|---|
| Opini: ProKlim, Ekonomi Karbon, dan Momentum Aksi Nyata dari Komunitas |
|
|---|
| Opini - Ketika Data Mengalahkan Realitas: Ancaman Baru Bagi Kearifan Lokal NTT |
|
|---|
| Opini: Menjaga Mutu Undana di Balik Layar WFH |
|
|---|
| Opini: Pendidikan sebagai Jalan Pemulihan Martabat Manusia di Era Modern |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Fidel-Darso.jpg)