Opini
Opini: Memerdekakan Pendidikan- Menjadikan NTT Lokomotif Ekonomi Biru dan Hijau
Sudah saatnya perguruan tinggi di NTT melakukan reorientasi radikal menuju pendidikan STEM dan vokasi diploma yang spesifik.
Oleh: Maxs U.E. Sanam
Guru Besar Bidang Mikrobiologi Veteriner Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Hewan, Rektor Universitas Nusa Cendana Kupang Periode 2021 – 2025.
POS-KUPANG.COM - Peringatan Hari Pendidikan Nasional ( Hardiknas) pada 2 Mei 2026 ini selayaknya tidak sekadar menjadi ritus tahunan yang terjebak dalam seremoni formalitas.
Bagi kami di Nusa Tenggara Timur ( NTT), Hardiknas adalah momen refleksi yang mendalam untuk menakar kembali sejauh mana janji kemerdekaan belajar telah menyentuh akar rumput.
Sebagai akademisi, kita sering membicarakan narasi besar tentang "Indonesia Sentris" — sebuah visi mulia untuk membangun bangsa dari pinggiran.
Namun, pada realitasnya, statistik pembangunan manusia menunjukkan bahwa harapan akan keadilan intelektual dan kesejahteraan sosial sering kali masih tertahan, seolah sulit menyeberangi Selat Sape.
Jurang Lebar di Timur Nusantara
Kesenjangan ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan cermin dari jarak akses terhadap kualitas pendidikan, infrastruktur sains yang memadai, serta konektivitas informasi yang belum merata.
Baca juga: Opini: Taman Nasional Mutis untuk Siapa?
Data berbicara lebih keras dari sekadar retorika. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) NTT saat ini masih tertatih di kisaran 63,00 – 64,00.
Jika kita bandingkan dengan NTB yang telah melampaui 70,00, atau Bali yang sukses menekan angka kemiskinan hingga di bawah 5 persen — kontras dengan NTT yang masih bergulat di level 19,9 persen —terlihat jelas ada disparitas yang menganga.
Pendapatan per kapita warga NTT yang hanya Rp 20-22 juta per tahun, tertinggal jauh dari rata-rata nasional, menegaskan adanya "mata rantai yang putus" antara institusi pendidikan dan realitas ekonomi lokal.
Rapuhnya Fondasi di Hulu
Persoalan ini memiliki akar yang lebih dalam di hulu. Kualitas pendidikan tinggi di NTT sangat bergantung pada input pendidikan dasar dan menengah. Faktanya, Rapor Pendidikan NTT masih menunjukkan skor literasi dan numerasi yang sering kali berada di bawah kompetensi minimum nasional.
Berdasarkan data BPS, angka putus sekolah di NTT pada jenjang SMA/SMK masih menjadi salah satu yang tertinggi, sementara rasio kecukupan guru STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) di pelosok masih sangat timpang.
Tanpa fondasi literasi sains yang kuat sejak jenjang SMA, perguruan tinggi akan terus terjebak dalam upaya "remediasi" alih-alih fokus pada inovasi tingkat tinggi.
Kita tidak bisa mengharapkan lahirnya inovator ekonomi jika di tingkat dasar saja, anak-anak kita kesulitan mengakses laboratorium dan bacaan bermutu.
Reorientasi ke Ekonomi Biru dan Hijau
Efek domino ini berlanjut pada ketimpangan profil lulusan di hilir yang belum selaras dengan potensi wilayah.
Kita perlu mengarahkan pendidikan kita untuk menguasai dua pilar masa depan: Ekonomi Biru dan Ekonomi Hijau.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Maxs-UE-Sanam-Profesor.jpg)