Breaking News
Minggu, 26 April 2026

Opini

Opini: 30 Tahun Kota Kupang Dibayang-bayangi Sampah 

Kota yang dipenuhi tumpukan sampah, drainase tersumbat, dan ruang publik yang kotor tentu akan kehilangan citra positifnya.

|
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI DAMASUS LADOLALENG
Damasus Lodolaleng 

Saatnya Menata Kota dan Membangun Kesadaran Bersama

Oleh: Damasus Lodolaleng, M.Pd
Warga Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Tiga puluh tahun usia Kota Kupang bukan lagi usia yang muda bagi sebuah daerah otonom. 

Dalam rentang waktu tersebut, Kota Kupang telah bertumbuh menjadi pusat pemerintahan, perdagangan, pendidikan, dan pelayanan publik di Provinsi Nusa Tenggara Timur. 

Pertumbuhan penduduk, pembangunan kawasan permukiman, peningkatan aktivitas ekonomi, serta mobilitas masyarakat menunjukkan bahwa kota ini terus bergerak maju. 

Namun, di balik perkembangan tersebut, masih terdapat persoalan klasik yang terus berulang dan belum terselesaikan secara mendasar, yaitu masalah sampah. 

Sampah bukan hanya persoalan kebersihan, melainkan persoalan tata kota, budaya masyarakat, kualitas pelayanan publik, dan masa depan lingkungan perkotaan.

Baca juga: Wali Kota Kupang Raih Penghargaan Nasional "Top Strategic Leadership" 2026

Dalam teori tata kota modern, kota yang baik adalah kota yang mampu menata ruang, menyediakan infrastruktur dasar, dan menciptakan lingkungan hidup yang sehat bagi warganya. 

Ahli perencanaan kota Kevin Lynch menekankan bahwa kota harus memiliki keteraturan, kenyamanan, serta identitas yang mudah dikenali masyarakat. 

Kota yang dipenuhi tumpukan sampah, drainase tersumbat, bau tidak sedap, dan ruang publik yang kotor tentu akan kehilangan citra positifnya. Sampah yang tidak dikelola dengan baik akan merusak estetika kota, menurunkan kualitas kesehatan masyarakat, bahkan menghambat aktivitas ekonomi dan pariwisata.

Selain itu, teori kota berkelanjutan menjelaskan bahwa pembangunan kota tidak hanya berorientasi pada gedung, jalan, atau pusat ekonomi, tetapi juga pada keseimbangan lingkungan. 

Kota berkelanjutan harus mampu mengelola limbah, mengurangi pencemaran, menjaga kualitas udara, dan menciptakan ruang hidup yang nyaman. Dalam konteks ini, kebersihan kota menjadi indikator penting keberhasilan pembangunan. 

Sebuah kota tidak bisa disebut maju apabila persoalan sampah masih menjadi masalah utama dari tahun ke tahun.

Banyak kota di dunia telah membuktikan bahwa persoalan sampah dapat diatasi melalui tata kelola yang baik dan kesadaran masyarakat yang tinggi. 

Di Eropa, misalnya, Kota Zurich di Swiss dikenal sebagai salah satu kota terbersih di dunia. Pemerintahnya menerapkan sistem pemilahan sampah yang ketat, jadwal pengangkutan teratur, serta denda bagi pelanggar aturan kebersihan. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved