Opini
Opini: Involusi Modal Manusia Sumba dan Paradoks Gengsi Kematian
Di balik eksotisme yang memukau dunia, Sumba umumnya khususnya Sumba Barat sedang mengalami pendarahan aset produktif yang masif.
Oleh: Frans Gana dan Umbu Reku Raya *
POS-KUPANG.COM - Dalam teori manajemen modern, kita mengenal prinsip keberlanjutan aset yang menegaskan bahwa pengelolaan sumber daya hari ini tidak boleh mengorbankan kemampuan generasi mendatang.
Namun, jika kita menelaah data sosiologis dan ekonomi dari Sumba Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur, khususnya pada masyarakat adat Loli, kita sedang menyaksikan sebuah fenomena yang mengkhawatirkan.
Dalam kacamata Manajemen Sumber Daya Manusia, hal ini dapat disebut sebagai involusi ekonomi atau kemunduran kualitas modal manusia secara sistematis.
Sebuah studi empirik mendalam bertajuk “Beban Ritual: Praktik Adat, Kebijakan Hidup Hemat, dan Kerentanan Sosioekonomi” menyajikan fakta yang mengguncang nurani akademis kita.
Baca juga: Opini: Ketika Anak Mengambil Pilihan Ekstrem- Alarm Keras bagi Perlindungan Anak
Di balik eksotisme budaya megalitik yang memukau dunia, Sumba umumnya khususnya Sumba Barat sedang mengalami pendarahan aset produktif yang masif.
Praktik ritual adat, baik perkawinan maupun kematian, kini bermutasi menjadi mesin pemiskinan struktural, padahal seharusnya ritual tersebut berfungsi sebagai penanda martabat dan kekerabatan sosial.
Sebagai akademisi yang menggelutistrategi sumber daya manusia (SDM), kami mencermati fenomena ini bukan sekadar masalah budaya.
Namun, hal ini adalah kegagalan sistemik dalam mengelola modal ekonomi dan modal manusia.
Ekonomi ritual berbiaya mahal yang melahirkan kebanggaan semu belaka, akan terus menggerus kepemilikan modal dan kesejahteraan jangka Panjang masyarakatnya.
Kita perlu berbicara jujur bahwa tanpa reformasi struktural, ekonomi ritual seperti ini akan terus menjebak masyarakat dalam lingkaran garis kemisikinan.
Disrupsi Aset dan Hilangnya Tanah Produktif
Data berbicara lebih keras daripada retorika pelestarian budaya. Di wilayah Weekarou misalnya, sekitar 80 persen lahan subur telah dijual atau digadaikan, sementara di Tebara angka tersebut mencapai 35 persen.
Tujuannya bukan untuk investasi pendidikan atau modal usaha, melainkan semata untuk membiayai ritual perkawinan dan pemakaman yang berbiaya selangit dari masa ke masa.
Dalam perspektif ekonomi, ini adalah keputusan investasi yang keliru.
Masyarakat menukar aset tetap berupa tanah yang bersifat produktif dengan aset simbolik berupa status sosial yang tidak lancar.
Ketika lahan pertanian hilang, basis ekonomi masyarakat agraris akan runtuh. Generasi muda Sumba hari ini mewarisi lahan yang semakin sempit atau
bahkan nihil, yang menyebabkan pemiskinan struktural dan dislokasi sosial.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Frans-Gana-01.jpg)