Minggu, 26 April 2026

Opini

Opini: Involusi Modal Manusia Sumba dan Paradoks Gengsi Kematian

Di balik eksotisme yang memukau dunia, Sumba umumnya khususnya Sumba Barat sedang mengalami pendarahan aset produktif yang masif. 

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI FRANS GANA
Frans Gana 

Lebih miris lagi, data lapangan dimana grafik utang adat menunjukkan tren kenaikan yang tidak sehat. 

Pada periode 1970 hingga 1990-an, utang adat relatif stabil dan kecil, umumnya hanya 1-2 ekor ternak. 

Namun, pasca tahun 2010 terjadi lonjakan utang yang ekstrem, di mana utang babi mencapai lebih dari 30 ekor dan kerbau hingga 20 ekor per keluarga. 

Beban ini disertai utang uang tunai yang mencapai puluhan juta rupiah, menciptakan siklus utang antargenerasi yang sulit diputus.

Kanibalisme Modal Manusia dan Pendidikan

Dampak paling fatal dari fenomena ini menimpa kualitas Sumber Daya Manusia. Dalam manajemen talenta, pendidikan adalah investasi tak berwujud yang terpenting. Namun, di Sumba terjadi pertukaran nilai yang memprihatinkan. 

Rumah tangga dihadapkan pada dilemma berat berupa benturan antara membayar biaya sekolah anak atau menyumbang dalam ritual klan.

Fakta lapangan menunjukkan bahwa ritual adat kerap kali lebih diprioritaskan daripada investasi pendidikan, karena ketidakikutsertaan dalam ritual adat dianggap sebagai pelanggaran kewajiban kekerabatan. 

Akibatnya, dana yang seharusnya menjadi tabungan pendidikan tergerus habis. 

Inisiatif tabungan pendidikan masyarakat yang sempat berhasil meluluskan 20 sarjana akhirnya layu karena banyak keluarga menarik diri demi memenuhi tuntutan adat. 

Ini adalah bentuk kanibalisme sosial di mana peluang masa depan anak dikorbankan demi ego status sosial hari ini. 

Kita menciptakan generasi yang kehilangan basis ekonomi sekaligus keterikatan sosial dengan tanah leluhur. 

Tanpa intervensi, penurunan kesejahteraan lintas generasi akan terus berlanjut dan memperdalam ketimpangan sosial.

Hipokrisi Elit dalam Manajemen Perubahan

Kebijakan pemerintah seperti Eka Pata tahun 1987 dan Gerbang Sutera tahun 2007 yang bertujuan menyederhanakan ritual ini terbukti belum efektif. Kegagalan ini berakar pada krisis kepemimpinan dan manajemen perubahan.

Studi ini mengungkap kontradiksi yang mencolok di kalangan elit adat dan pejabat pemerintah. 

Meskipun mereka menyerukan penyederhanaan ritual, kenyataannya para tetua dan pemimpin klan masih menyelenggarakan upacara mewah sebagai manifestasi prestise.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved