Opini
Opini: Anak NTT di Bali
Ada pola tertentu yang sering muncul dalam insiden yang melibatkan warga NTT: konsumsi alkohol, kehilangan kendali diri, dan sikap "sok jago".
Tanpa itu, seseorang hanya membawa masalah dari kampung ke kota yang lebih besar. Dan di sinilah, persoalan menjadi lebih serius: perilaku oknum menjadi beban kolektif.
Media Sosial: Pencipta dan Penyebar Stigma Baru
Ketegangan sosial antara masyarakat lokal dan perantau akan berbeda dampaknya jika tidak diperkuat oleh media sosial.
Dalam lingkungan digital, satu insiden kecil bisa menjadi konsumsi publik nasional.
Video seseorang yang mabuk dan berteriak, rekaman keributan, atau postingan seorang pemilik usaha yang mengeluh tentang tindakan pelanggan—semuanya menjadi viral jauh lebih cepat daripada klarifikasi atau narasi positif.
Sementara itu, ribuan anak NTT yang bekerja jujur, disiplin, dan profesional tidak masuk ke linimasa publik. Narasi positif tidak viral; narasi negatif menyebar cepat.
Akibatnya, persepsi publik terbentuk oleh yang tampak, bukan yang sebenarnya dominan.
Ini memperkuat apa yang disebut dalam teori komunikasi sebagai availability heuristic: manusia menilai kenyataan berdasarkan informasi yang paling mudah diingat—dan biasanya itu adalah informasi yang dramatis dan negatif.
Dalam konteks ini, para perantau NTT menjadi korban dari algoritma yang menyukai sensasi.
Solusi Internal: Membangun Kembali Etika Merantau
Untuk memperbaiki keadaan, langkah pertama harus datang dari dalam komunitas NTT sendiri.
Banyak tokoh masyarakat NTT menyebut konsep “merantau dengan bermartabat”: sopan, rendah hati, tidak sok jago, tidak mabuk di tempat umum, dan memahami bahwa nama baik itu tidak hanya milik pribadi tetapi milik seluruh daerah.
Salah satu pendekatan yang semakin diserukan adalah pembinaan berbasis komunitas: - memberikan edukasi tentang etika publik, - pendampingan bagi perantau baru, - kegiatan sosial yang memperkuat rasa tanggung jawab, - dan mekanisme pengendalian internal untuk mengingatkan mereka yang mulai bertindak di luar batas.
Tanpa pembinaan internal, bahkan seribu kampanye anti-stigma pun tidak akan berhasil.
Tanggung Jawab Eksternal: Menghentikan Diskriminasi dan Generalisasi
Di sisi lain, masyarakat Bali sebagai tuan rumah juga memiliki tugas moral: tidak menggeneralisasi dan tidak menghakimi seluruh kelompok berdasarkan perilaku oknum.
Bali selama ini dikenal sebagai ruang harmonis yang dihargai dunia. Prinsip Tat Twam Asi “aku adalah engkau” seharusnya menjadi landasan interaksi antarsesama, termasuk kepada perantau.
Menghakimi seluruh kelompok berdasarkan identitas asal bukan hanya tidak adil, tetapi juga berbahaya. Diskriminasi dapat memicu konflik horizontal yang jauh lebih besar.
Stigma harus dihentikan sebelum menjadi api sosial yang membakar kepercayaan antarkelompok.
Penutup: Di Persimpangan Nama Baik
Anak NTT di Bali berada di persimpangan sejarah sosial mereka. Di satu sisi, ada ribuan perantau yang bekerja keras, bermartabat, dan berkontribusi besar bagi ekonomi Bali.
Di sisi lain, ada segelintir oknum yang merusak citra kolektif dengan tindakan tidak bertanggung jawab. Masa depan citra NTT di Bali bergantung pada dua hal:
Pertama, kemampuan internal komunitas NTT untuk mendisiplinkan diri dan menjaga nama baik.
Kedua, kemampuan masyarakat Bali untuk tetap adil, terbuka, dan tidak terjebak generalisasi.
Merantau adalah perjalanan panjang identitas. Anak NTT di Bali punya peluang besar untuk menunjukkan bahwa mereka bukan ancaman, tetapi saudara yang datang untuk bekerja, belajar, dan hidup bersama dalam keberagaman.
Dan seperti yang dikatakan banyak orang tua di NTT: “Ke luar negeri orang membawa bendera. Ke tanah rantau orang membawa nama baik.”
Nama baik itu harus dijaga bersama, hari ini, besok, dan seterusnya. (*)
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Aldo-Corason.jpg)