Kamis, 7 Mei 2026

Opini

Opini: Membaca HIV dari Tubuh Ibu Rumah Tangga di Kupang

Pada akhirnya, rumah hanya akan menjadi benteng jika di dalamnya ada kejujuran, keadilan dan  kesetaraan.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI DEBBIE MARLENI SODAKAIN
Debbie Marleni Sodakain 

Oleh: Debbie Marleni Sodakain
Pendeta GMIT di Mollo Barat, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur.
e-Mail: dmsodakain@gmail.com

POS-KUPANG.COM - Saya tidak mulai dari konsep. Saya mulai dari tubuh. Dari seorang ibu di Kupang yang tetap memasak pagi itu, sementara data menunjukkan bahwa ibu rumah tangga kini menjadi kelompok kedua tertinggi penderita HIV di kota ini (RRI Kupang, 2025). 

Ia menyiapkan sarapan seperti biasa, mengantar anak ke sekolah seperti biasa dan  berusaha tersenyum seperti biasa. Dari luar, tidak ada yang berubah. 

Tetapi di dalam tubuhnya, ada sesuatu yang sudah lebih dulu berjalan tanpa suara, perlahan, tanpa izin, tanpa pilihan.

Di banyak rumah, luka seperti ini tidak pernah benar benar diucapkan. Ia tidak hadir dalam percakapan keluarga. Ia tidak disebut dalam doa bersama. 

Baca juga: Penyebaran HIV AIDS di Kota Kupang Mengkhawatirkan, IRT Tempati Posisi Kedua Tertinggi

Ia hidup dalam diam, dalam rasa lelah yang tidak dijelaskan, dalam ketakutan yang tidak memiliki bahasa. 

Saya melihat bahwa yang paling menyakitkan bukan hanya penyakitnya, tetapi kesunyian yang mengikutinya, kesunyian yang membuatnya tetap hadir secara fisik, tetapi perlahan menjauh secara batin. 

Ia tidak hanya berhadapan dengan virus, tetapi juga dengan sunyi yang memisahkannya dari kehidupan yang selama ini ia rawat.

Jika kita jujur, ini bukan cerita tentang pilihan bebas. Ini adalah cerita tentang keterpaksaan yang tidak pernah diberi ruang untuk diakui. 

Ini bukan hanya perempuan yang tertular. Ini adalah perempuan yang tidak pernah diberi pilihan sejak awal.

Data hanya membantu kita melihat apa yang selama ini kita tolak untuk mengerti. 

Dalam tiga tahun terakhir, Kota Kupang mencatat lebih dari dua ratus kasus baru HIV setiap tahun, dengan total kumulatif melampaui dua ribu lima ratus kasus hingga tahun dua ribu dua puluh lima (RRI Kupang, 2025). 

Di tingkat provinsi, kasus HIV di Nusa Tenggara Timur meningkat dari lima ratus tujuh puluh sembilan pada tahun dua ribu dua puluh dua menjadi sembilan ratus sembilan puluh tujuh pada tahun dua ribu dua puluh tiga dan kembali naik menjadi seribu tiga ratus lima belas pada tahun dua ribu dua puluh empat (Dinas Kesehatan Provinsi NTT, 2024). 

Di antara angka itu, sekitar tiga belas hingga delapan belas persen adalah ibu rumah tangga (Flobamora Terkini, 2025; Kampiun News, 2025).

Ini bukan angka kecil. Ini bukan penyimpangan. Ini adalah tanda bahwa pola penularan telah bergeser secara diam diam tetapi pasti. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved