Opini
Opini: Aku Kolektif
Menulis catatan harian berarti berusaha kembali ke bagian terdalam diri, menggemakan perintah Kristus sendiri, “Duc in altum!”
Oleh: Mario F. Lawi
Nomine Penghargaan Sastra Kemendikdasmen 2026 Kategori Esai/Kritik Sastra, tinggal di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Judul Aku Lalian: Nostalgia Tujuh Dua (Dusun Flobamora, Mei 2026, editor Rm. Arnoldus Lema, Pr.) mengingatkan saya pada Noli Me Tangere, karya José Rizal, novelis besar dan Bapak Bangsa Filipina.
Aku Lalian adalah antologi refleksi angkatan 72 Seminari Menengah St. Maria Immaculata, Lalian, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, tetapi menggunakan kata “Aku”, pronomina orang pertama tunggal, sebagai judul.
“Aku” dalam judul Aku Lalian adalah sebuah “aku” kolektif, dari sebuah angkatan yang pernah bersama-sama selama empat tahun dalam sebuah lembaga pendidikan calon imam.
Baca juga: Opini: Opini WTP dan Ilusi Akuntabilitas Publik
Dalam semangat yang sama, “me” dalam Noli me tangere (jangan sentuh aku), adalah juga pernyataan kolektif, dari pihak dijajah terhadap pihak penjajah.
Bandingkan juga dengan “Aku”-nya Chairil, sebagai “aku” patriotik, yang menggugah perjuangan segenap anak bangsa melawan pendudukan Jepang.
Refleksi, atau esai reflektif, adalah bentuk paling mudah ditemukan sebagai tulisan para seminaris, atau orang-orang yang mengenyam pendidikan di biara.
Anak-anak seminari biasanya dianjurkan untuk mencatat pengalaman harian mereka.
Jika tidak, ada sesi refleksi harian, saat mereka mesti merenungkan kembali pengalaman harian mereka berdasarkan bacaan-bacaan harian dari Alkitab.
Catatan harian sejumlah santo-santa pun mengambil bentuk esai reflektif semacam ini.
Dalam antologi Aku Lalian, 61 seminaris mencatat pengalaman paling menarik dalam hidup mereka, pada hari-hari terakhir keberadaan mereka di seminari menengah.
Sebagai pembanding, para seminaris angkatan 39 di Seminari Menengah Santo Rafael Oepoi menggubah pengalaman berasrama mereka ke dalam bentuk cerita.
Antologi cerita mereka, Bersama Santo Rafael di Ladang Tuhan (Dusun Flobamora, 2025, editor: Mario F. Lawi & Yarid K. Munah), menunjukkan momen-momen transformasi para tokoh cerita, yang bisa jadi diangkat dari pengalaman-pengalaman harian para seminaris.
Kontekstualisasi kisah dalam Bersama Santo Rafael di Ladang Tuhan dengan kenyataan di Nusa Tenggara Timur jugalah yang menjadi salah satu alasan antologi tersebut diakuisisi oleh KITLV-Jakarta, bersama 36 judul buku terbitan Dusun Flobamora lainnya.
Karena itulah, ketika diminta untuk memberikan komentar sampul terhadap buku Aku Lalian, saya menulis:
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Mario-F-Lawi-penyair.jpg)