Opini
Opini: Anak NTT di Bali
Ada pola tertentu yang sering muncul dalam insiden yang melibatkan warga NTT: konsumsi alkohol, kehilangan kendali diri, dan sikap "sok jago".
Beberapa mahasiswa NTT yang ingin mencari kos di Denpasar, Jimbaran, atau Kuta mengaku ditolak secara halus. Penolakan itu muncul setelah identitas mereka diketahui.
Tidak ada aturan tertulis yang melarang anak NTT menyewa kos, tetapi keputusan personal sebagian pemilik kos didasari kekhawatiran dan stereotip.
Bentuknya bermacam-macam: - “Maaf, kamarnya baru saja terisi.” - “Kos kami penuh, coba cari ke tempat lain.” - “Kos ini khusus perempuan saja” padahal ada kamar laki-laki yang kosong.
Atau penolakan terang-terangan: “Maaf, saya tidak menerima anak NTT.”
Fenomena ini tidak terjadi pada semua tempat kos, tetapi cukup sering dilaporkan sehingga menjadi isu penting di komunitas perantau.
Diskriminasi seperti ini mengingatkan kita bahwa stigma bukan sekadar isu persepsi; ia telah menembus ranah ekonomi dan akses dasar terhadap tempat tinggal.
Ketika seseorang tidak diterima bukan karena perilakunya, tetapi karena identitas geografisnya, maka yang terjadi adalah kesalahan moral sekaligus pelanggaran etika sosial.
Kondisi ini menegaskan bahwa stigma dapat mematikan kesempatan, bahkan sebelum seseorang diberi kesempatan untuk menunjukkan siapa dirinya.
Kerapuhan Internal: Ketidaksiapan Merantau dan Budaya Konsumsi Alkohol
Untuk bersikap adil, kritik juga perlu diarahkan pada masalah internal.
Banyak tokoh masyarakat NTT di Bali menyebut bahwa sebagian anak muda NTT datang merantau tanpa persiapan yang matang—baik itu kedisiplinan, kemampuan adaptasi, maupun kontrol diri.
Dalam budaya tertentu di NTT, konsumsi minuman keras merupakan bagian dari tradisi sosial.
Namun ketika dibawa ke ruang publik Bali yang penuh aturan dan interaksi multikultur,kebiasaan ini sering memicu masalah.
Alkohol yang dalam konteks adat digunakan dalam kendali kolektif berubah menjadi faktor chaos ketika dikonsumsi tanpa pengawasan.
Dalam beberapa kasus, rasa “berani” atau “jagoan” ketika mabuk justru menjadi masalah.
Di saat itulah konflik dengan sesama perantau atau warga lokal muncul.
Ketika seseorang kehilangan kendali, ia kehilangan kemampuan membaca situasi sosial, termasuk norma lokal seperti tatakrama Bali yang sangat menghargai kesopanan dan ketertiban. Merantau butuh kedewasaan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Aldo-Corason.jpg)