Jumat, 8 Mei 2026

Opini

Opini: Anak NTT di Bali

Ada pola tertentu yang sering muncul dalam insiden yang melibatkan warga NTT: konsumsi alkohol, kehilangan kendali diri, dan sikap "sok jago". 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI ALDO CORASON
Aldo Corason 

Sementara harapan yang mereka bawa adalah keinginan untuk memperbaiki ekonomi, membangun masa depan, dan meraih pengalaman hidup yang lebih luas. 

Namun, dalam kenyataan lapangan, tidak semua proses merantau berjalan mulus. Interaksi dengan masyarakat lokal menuntut adaptasi yang kuat. 

Dalam interaksi itu pula sering muncul gesekan baik karena perbedaan budaya, karakter, maupun gaya hidup. 

Ketika gesekan sosial ini bertemu dengan insiden kekerasan, mabuk, atau tindakan kriminal, pembacaan publik seringkali menjadi tidak proporsional. Di titik itulah stigma lahir, tumbuh, dan mengakar.

Tindakan Oknum: Pemicu Utama Stigma yang Melebar 

Ada pola tertentu yang sering muncul dalam insiden yang melibatkan warga NTT: konsumsi alkohol, kehilangan kendali diri, dan sikap "sok jago". 

Tidak semua, tentu saja. Namun cukup banyak contoh yang viral di media sosial sehingga membentuk persepsi publik. 

Kasus-kasus seperti: - keributan sesama warga NTT di tempat hiburan malam, - adu mulut yang berujung perkelahian di jalan raya, - aksi ugal-ugalan setelah mabuk, - dan tindakan kekerasan antar- pemuda dalam momen pesta atau acara kumpul, menjadi materi yang mudah menyebar di era digital. 

Video amatir memperlihatkan pertikaian, suara teriakan, atau seseorang yang mabuk dan tidak mengendalikan diri. 

Dalam hitungan menit, insiden itu menyebar di Facebook, TikTok, atau WhatsApp group. 

Masalahnya adalah perilaku minoritas ini kemudian dibaca seolah mewakili seluruh kelompok, terutama ketika insiden terjadi berulang. Publik tidak melihat “oknum” publik melihat “orang NTT”. 

Akibatnya, kebanggaan identitas perantau tiba-tiba berubah menjadi beban identitas. 

Di titik ini, pembacaan akademis dapat menggunakan konsep sosiologi labeling theorl, yaitu ketika masyarakat memberi cap tertentu kepada kelompok tertentu berdasarkan perilaku sebagian anggotanya. 

Begitu sebuah label terbentuk, ia sering melekat kuat dan sulit dihapus. 

Dalam konteks Bali, label itu berbunyi: “kalau ribut, pasti orang NTT”—meskipun faktanya tidak selalu demikian.

Dampak Sosial: Diskriminasi Kos dan Peluang yang Tertutup

Fenomena paling memprihatinkan dari stigma ini adalah dampaknya terhadap mereka yang sama sekali tidak melakukan kesalahan. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved