Jumat, 8 Mei 2026

Opini

Opini: Anak NTT di Bali

Ada pola tertentu yang sering muncul dalam insiden yang melibatkan warga NTT: konsumsi alkohol, kehilangan kendali diri, dan sikap "sok jago". 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI ALDO CORASON
Aldo Corason 

Di Tengah Stigma, Realitas Sosial, dan Pertarungan Nama Baik

Oleh: Aldo Corason
Alumnus ITFK Ledalero Maumere, Nusa Tenggara Timur

POS-KUPANG.COM - Bali adalah ruang kosmopolit yang dihuni oleh beragam identitas, budaya, dan tenaga perantau dari seluruh Indonesia. 

Provinsi ini bukan hanya destinasi wisata; ia adalah pasar kerja yang ramai, tempat ribuan orang menggantungkan harapan hidup, termasuk mereka yang berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT). 

Namun dalam beberapa tahun terakhir, dinamika hubungan antara perantau NTT dan masyarakat Bali mengalami ketegangan yang tidak bisa diabaikan.

Baca juga: Pemprov NTT, Bali, NTB Teken MoU dengan Pengelola Sirkuit Mandalika

Sejumlah insiden yang melibatkan oknum warga NTT—terutama kasus-kasus yang dipicu konsumsi alkohol— telah menciptakan stigma baru yang semakin mengeras di masyarakat.

Fenomena ini bukan sekadar persoalan kriminalitas atau kenakalan pemuda. 

Ia telah berkembang menjadi persoalan identitas, penerimaan sosial, dan ketimpangan persepsi antarmasyarakat. 

Lebih jauh lagi, ia menimbulkan pertanyaan penting: bagaimana komunitas NTT mempertahankan nama baik di tanah rantau ketika perilaku sebagian kecil oknum justru mencoreng seluruh kelompok? 

Tulisan ini mencoba mengurai persoalan tersebut secara kritis, dengan nada akademis namun tetap menyentuh dimensi sosial dan moral yang melingkupinya.

Sebab, masalah stigma terhadap perantau NTT di Bali bukan sekadar peristiwa kebetulan; ia adalah gejala sosial dari ketegangan yang lebih dalam dan kompleks.

Bali sebagai Ruang Perantauan: Harapan dan Realitas

Bali adalah ruang hidup bagi perantau NTT. Mereka hadir dalam berbagai sektor pekerjaan: pariwisata, konstruksi, keamanan, jasa kebersihan, restoran, perhotelan, hingga pendidikan. 

Di antara mereka, banyak pula mahasiswa yang merantau untuk menempuh pendidikan di kampus-kampus Bali. 

Sebagai perantau yang hidup jauh dari lingkungan asal, masyarakat NTT di Bali membawa dua hal: beban identitas dan harapan akan kehidupan yang lebih baik. 

Identitas itu tidak hanya mewakili diri pribadi, tetapi juga keluarga, suku, dan daerah asal. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved