Opini
Opini: Remaja dan Seni Mencintai, Membaca Ulang Pacaran di Zaman Kini
Dahulu, pacaran cenderung terbatas, dengan interaksi langsung yang jarang dan komunikasi yang terikat ruang dan waktu.
Di sinilah seni mencintai diperlukan: remaja harus belajar bahwa mencintai tidak hanya soal intensitas komunikasi, tetapi juga kualitas hubungan.
Relasi sehat di era digital membutuhkan keseimbangan antara kedekatan emosional dan kebijaksanaan dalam mengelola ruang publik, sehingga pacaran benar-benar menjadi pengalaman belajar yang mendewasakan.
Cinta dalam Perspektif Filsafat: Dari Plato hingga Freud
Pembahasan cinta tidak bisa dilepaskan dari pemikiran filsuf besar. Plato memandang cinta sebagai sesuatu yang ideal dan transenden.
Dalam Symposium, ia menjelaskan bahwa cinta (eros) bukan sekadar ketertarikan fisik, tetapi kerinduan jiwa untuk mencapai kebaikan dan keindahan sejati.
Bagi Plato, cinta adalah tangga menuju yang ilahi karena melalui cinta manusia digerakkan mencari kebenaran yang lebih tinggi (Plato, Symposium, 1989).
Pemikiran ini menekankan bahwa cinta sejati harus melampaui hasrat sesaat.
Cinta yang matang mendorong manusia bertumbuh, bukan sekadar mencari kepuasan diri.
Oleh karena itu, cinta dapat menjadi jalan menuju kebijaksanaan dan kesempurnaan moral.
Pemahaman ini relevan bagi remaja, karena di masa pencarian identitas mereka butuh arahan bahwa cinta bukan sekadar “memiliki” seseorang, melainkan membangun diri menuju keutuhan.
Berbeda dengan Plato, Sigmund Freud memandang cinta melalui psikoanalisis.
Freud menekankan bahwa cinta erat kaitannya dengan dorongan biologis, terutama hasrat seksual.
Menurutnya, manusia digerakkan oleh dua insting utama: eros (naluri hidup) dan thanatos (naluri kematian).
Eros mencakup dorongan seksual yang mengikat manusia dalam relasi, tetapi juga dapat menimbulkan konflik batin bila tidak dikelola dengan baik (Freud, Three Essays on the Theory of Sexuality, 1905).
Pandangan Freud ini dianggap lebih realistis karena menunjukkan bahwa cinta tidak bisa dilepaskan dari tubuh dan hasrat.
Di usia remaja, dorongan ini sangat kuat sehingga relasi asmara sering kali penuh gejolak emosi.
Freud mengingatkan bahwa bila cinta hanya dikuasai hasrat biologis, hubungan berisiko jatuh ke dalam pola destruktif berupa kecemburuan berlebihan, kekerasan, atau depresi setelah ditinggalkan.
Jika dibandingkan, Plato menawarkan visi cinta yang luhur, sedangkan Freud menyoroti sisi gelap cinta.
Dua perspektif ini tidak perlu dipertentangkan, tetapi dapat saling melengkapi.
Dari Plato, kita belajar bahwa cinta harus diarahkan pada sesuatu yang lebih tinggi daripada kepuasan diri.
Dari Freud, kita disadarkan bahwa cinta juga memiliki dimensi naluriah yang nyata.
Keduanya mengajarkan keseimbangan: cinta dapat mengangkat, tetapi juga menghancurkan.
Relevansi pandangan ini bagi remaja sangat besar. Pada masa pertumbuhan, remaja sering terbawa perasaan intens dan keinginan untuk diakui.
Dari Plato, mereka belajar melihat cinta sebagai jalan pembentukan diri menuju kebaikan.
Dari Freud, mereka sadar pentingnya mengendalikan hasrat dan emosi agar tidak jatuh dalam hubungan merusak.
Membaca ulang cinta melalui keduanya membantu kita lebih bijak melihat relasi remaja.
Psikologi Modern dan Seni Mencintai
Psikologi modern menekankan bahwa cinta tidak cukup dipahami sebagai perasaan spontan, melainkan keterampilan yang harus diasah.
Erich Fromm dalam karyanya The Art of Loving menegaskan bahwa cinta adalah seni, sama seperti musik atau melukis, yang memerlukan latihan, pengetahuan, dan dedikasi (Fromm, 1956).
Menurut Fromm, ada empat elemen mendasar dalam seni mencintai: perhatian (care), tanggung jawab (responsibility), penghargaan (respect), dan pengetahuan (knowledge). Perhatian berarti hadir nyata dalam hidup orang lain.
Rasa tanggung jawab menuntut keterlibatan aktif. Penghargaan menekankan pengakuan terhadap kebebasan orang lain.
Pengetahuan menegaskan pentingnya mengenal diri dan pasangan secara mendalam.
Jika semua ini dijalankan, cinta hadir sebagai relasi yang menumbuhkan.
Cinta yang sehat tidak melukai atau mengikat, melainkan memberi ruang bagi kedua pihak untuk bertumbuh bersama.
Inilah perbedaan mendasar antara cinta yang matang dan cinta instan: yang satu mendidik, yang lain merusak.
Bagi remaja, pandangan Fromm sangat relevan. Masa remaja ditandai gejolak emosi dan pencarian identitas, sehingga cinta sering dipahami hanya sebagai rasa suka atau ketertarikan fisik.
Agar relasi sehat, remaja perlu menguasai keterampilan emosional seperti empati, pengendalian diri, dan kemampuan komunikasi.
Empati membantu memahami perasaan pasangan, pengendalian diri menjaga dari tindakan impulsif, dan komunikasi yang baik mencegah kesalahpahaman.
Tanpa keterampilan ini, cinta bisa menjadi sumber frustrasi. Sebaliknya, dengan keterampilan emosional memadai, cinta menjadi sarana belajar kedewasaan.
Melalui proses mencintai, remaja belajar menghadapi konflik, memahami kebutuhan orang lain, serta menempatkan kepentingan bersama di atas ego pribadi.
Dengan memahami cinta sebagai seni yang dipelajari, remaja diajak tidak memandang pacaran sekadar permainan hati, melainkan kesempatan belajar.
Cinta yang matang menumbuhkan pribadi dewasa, bertanggung jawab, dan mampu membangun relasi sehat. Inilah wajah cinta sejati: cinta yang menumbuhkan, bukan melukai.
Kesadaran akan seni mencintai ini mengarahkan remaja pada pilihan yang lebih bijaksana.
Mereka lebih berhati-hati menjalin hubungan dan lebih siap menghadapi konsekuensinya. Dengan demikian, cinta tidak lagi menjadi ancaman, melainkan anugerah yang memperkaya perjalanan hidup.
Pacaran sebagai Sekolah Kehidupan
Pacaran remaja bukan masalah, melainkan fenomena sosial yang perlu dibaca lebih jernih.
Selama ini, banyak orang dewasa memandangnya dengan kacamata larangan, tanpa memberi ruang pemahaman.
Padahal bagi remaja, pacaran merupakan bagian dari proses belajar mengenal diri, orang lain, serta cara membangun relasi.
Persoalan bukan pada pacarannya, tetapi pada bagaimana relasi itu dijalani.
Jika dipahami sebagai luapan emosi sesaat, pacaran berisiko menjerumuskan remaja dalam berbagai masalah: kekerasan, depresi, hingga tindakan nekat.
Namun jika dipandang sebagai ruang belajar mencintai, pacaran justru bisa menjadi sekolah kehidupan yang berharga.
Di sinilah pentingnya perspektif lebih dalam dan bijaksana untuk mendampingi remaja.
Plato mengajarkan bahwa cinta adalah kerinduan jiwa menuju kebaikan dan keindahan. Freud menegaskan bahwa cinta terkait dorongan biologis yang perlu dikelola.
Psikologi modern, melalui Fromm, menambahkan bahwa cinta adalah keterampilan yang bisa dipelajari.
Ketiga pandangan ini menolong remaja melihat cinta sebagai sesuatu yang luhur sekaligus realistis.
Dengan memadukan filsafat dan psikologi, kita dapat membantu remaja melihat pacaran secara utuh. Mereka perlu dibimbing agar pacaran tidak menjadi ajang saling melukai, melainkan ruang saling menumbuhkan.
Pendidikan emosional, komunikasi sehat, dan nilai kebersamaan harus hadir dalam setiap relasi.
Harapannya, remaja menjalani pacaran bukan untuk mengorbankan masa depan, melainkan untuk menapaki perjalanan menuju kedewasaan.
Cinta sehat tidak lahir dari drama atau kecemburuan, tetapi dari kesediaan belajar, berproses, dan tumbuh bersama.
Dengan demikian, pacaran remaja menjadi seni mencintai yang membebaskan, bukan jebakan yang menghancurkan.
Pada akhirnya, membaca ulang pacaran di zaman kini berarti menolong remaja memahami bahwa cinta sejati bukan soal memiliki, melainkan membangun.
Bukan soal mengikat, melainkan mendampingi. Dan bukan soal melukai, melainkan menumbuhkan.
Inilah seni mencintai yang perlu diwariskan kepada generasi muda agar mereka tidak hanya pandai mencinta, tetapi juga bijak dalam menjalaninya. (*)
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Goldy-Ogur.jpg)