Sabtu, 30 Mei 2026

Opini

Opini: Kekuatan Narasi Digital- Pesta Babi dan Perebutan Pengaruh Setelahnya

Algoritma bekerja dengan logika keterlibatan; semakin emosional sebuah narasi, semakin besar peluangnya untuk disebarkan. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI YOHANES B. EBANG
Yohanes Berchemans Ebang 

Oleh: Yohanes Berchemans Ebang 
Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Brawijaya Malang.
Kontak: hansebang4@gmail.com 

POS-KUPANG.COM - Sejak film dokumenter Pesta Babi mulai diputar dalam berbagai acara nonton bareng di berbagai komunitas/kelompok masyarakat, perdebatan publik bergerak cepat melampaui ruang pemutaran. 

Potongan visual dan adegan beredar di berbagai platform media sosial. Komentar dan opini bermunculan termasuk seruan boikot. 

Sementara sebagian lain memuji keberanian investigatif dan gaya artistiknya. Yang dipersoalkan bukan hanya soal intrinsik film, tetapi soal moral, agama, identitas, bahkan ‘siapa yang berhak bicara atas nama publik’. 

Baca juga: Opini: Veronika! Su Nonton Film Pesta Babi Ko?

Di titik ini, terlihat bahwa yang diperebutkan bukan sekadar sebuah karya investigatif - dokumenter atau seni sinematografi melainkan makna dan pengaruh sosial yang lahir setelahnya. 

Ruang digital berubah menjadi arena perebutan kuasa simbolik; siapa yang paling mampu membingkai realitas, mengarahkan emosi, dan menentukan mana yang dianggap benar, bermoral atau bahkan yang berbahaya.

Perbedaan pandangan tentang narasi yang diusung Pesta Babi memperlihatkan bahwa masyarakat digital hidup dalam situasi banjir interpretasi; bahkan mengaburkan substansi dari sebuah pesan. 

Setiap orang dapat menjadi komentator, penyebar opini, sekaligus produsen makna. 

Sebuah film dokumenter yang awalnya diputar dalam lingkup nonton bareng komunitas atau kelompok masyarakat tidak lagi berhenti sebagai karya seni dan ruang dialog terbatas, tetapi menjelma menjadi objek kontestasi sosial-politik di ranah yang luas. 

Di media sosial, satu potongan adegan dan narasi dapat dipisahkan dari konteksnya lantas diproduksi ulang, lalu disebarkan sebagai simbol kemarahan, kritik, atau identitas kelompok. 

Kecepatan distribusi informasi membuat emosi publik bergerak lebih cepat daripada proses refleksi. 

Dalam situasi seperti ini, ‘kebenaran’ sering kali tidak ditentukan oleh kedalaman analisis, melainkan oleh seberapa kuat sebuah narasi mampu menarik atensi publik dan membangun resonansi emosional di ruang digital.

Sampai di sini, pemikiran Michel Foucault menjadi relevan untuk memahami cara kerja kekuasaan dan pengaruh; bukan melalui institusi legal, formal dan permanen tetapi boleh jadi melalui kaum terpinggirkan atau komunitas akar rumput. 

Bagi Foucault, kuasa tidak selalu hadir dalam bentuk represi langsung, dikte dan intimidasi tetapi bekerja halus melalui produksi wacana: lewat label, percakapan, komentar, dan kategori moral yang terus diulang dan disebarkan. 

Pada kasus Pesta Babi, publik digital tidak hanya menonton film, tetapi juga memproduksi pengetahuan tentang film itu; ada yang menyebutnya kritik sosial, ada yang menilainya provokatif, ada yang menjadikannya simbol keberanian artistik. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved