Opini
Opini - Masalah Phone Snubbing dan Solusi Plotinus Atas Krisis Identitas Digital
Dunia di era digital saat ini, sedang mengalami masalah sosial yang serius terkait dengan Phone Snubbing
Opini - Masalah Phone Snubbing dan Solusi Plotinus Atas Krisis Identitas Digital
Oleh: Alexander Fuin
Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang
POS-KUPANG.COM - Dunia di era digital saat ini, sedang mengalami masalah sosial yang serius terkait dengan Phone Snubbing di mana manusia mengabaikan manusia lainnya dan sibuk dengan menatap layar ponsel.
Fenomena ini sering dianggap trivialisasi tetapi sebenarnya urgent yang mengancam eksistensi manusia sebagai makhluk sosial.
Dalam masalah Phone Snubbing munculah sebuah istilah “ ada tapi tiada” menjadi sebuah kecemasan sosial yang menyebabkan menurunnya kualitas relasi dalam sebuah hubungan baik keluarga, pertemanan maupun personal relationships.
Manusia hadir dalam arti sekedar ada secara fisik tetapi tiada dalam berpikir. Berangkat dari masalah Phone Snubbing, digital saat ini pun mengendalikan pikiran manusia baik dalam bertindak dan berpikir.
Manusia lupa akan dirinya sebagai manusia yang berpikir (Homo Sapiens). Manusia juga lupa akan keberadaan dan kehadirannya sebagai manusia, dan lebih cenderung mementingkan relasi virtual daripada relasi fisik yang nyata.
Maka dari pemikiran Plotinus menawarkan jawaban terkait masalah digitalis yang relevan untuk menemukan keseimbangan diri dan kepribadian yang utuh dalam bermedia sosial.
Plotinus, adalah Filsuf Kuno pendiri aliran neoplatonisme dalam pemikirannya mengenai dualitas jiwa yaitu jiwa bagian atas dan jiwa bagian bawah mengatakan bahwa dalam kehidupan manusia memiliki dua dimensi jiwa yaitu.
Ada jiwa bagian bawah yang merupakan suatu realitas yang paling rendah yang mengarah ke bawah yaitu ranah materi dan inderawi yang bersifat tidak sempurna dan sementara yang berdampak buruk dan memberi pengaruh jahat.
Ada juga dunia bagian atas merupakan dimensi yang sempurna yang berhubungan dengan akal budi (nous) dan rasio murni yang memberi kebenaran dan keabadian dalam berpikir. Jiwa bagian atas tidak pernah turun ke dalam dunia materi tetapi tetap terhubung dengan suatu realitas yang sempurna itu.
Jiwa terbelah tubuh di sini pikiran di sana
Phone Snubbing menjadi masalah dalam suatu relasi yang dibangun karena hubungan, yang seharusnya menjadi wadah berkomunikasi dan bertukar pikiran menjadi relasi yang ironis, dikarenakan hilangnya empati karena menurunnya hubungan tatap muka, meskipun manusia hadir secara fisik tetapi berpikir di dunia maya.
Lebih ironis lagi jika hubungan itu dilakukan hanya lewat media sosial seperti yang di katakan oleh Budi Hardiman aku klik maka aku ada, hal ini dapat merusak relasi sosial yang dijalani.
Kita dikuasai oleh teknologi dan diberi kenyamanan dan kemudahan tapi kita lupa kenyamanan dan kemudahan itu hanya bersifat semu dan tidak abadi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Alexander-Fuin-okay.jpg)