Opini
Opini: Merawat Tutu Koda
Tutu koda berasal dari bahasa Lamaholot yang bermakna bercerita. Namun, tradisi ini memiliki makna yang lebih luas.
Oleh: Yoseph Yoneta Motong Wuwur
Warga Lembata, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Anak-anak Lamaholot hari ini lebih akrab dengan suara notifikasi dari Ponsel pintar daripada suara cerita orangtuanya.
Malam yang dahulu dipenuhi kisah leluhur kini berubah menjadi ruang sunyi yang diterangi cahaya layar digital.
Tradisi tutu koda perlahan menghilang bersama perubahan zaman modern. Padahal, dari tradisi lisan itu diwariskan etika dan nilai kehidupan.
Tutu koda bukan sekadar cerita pengantar tidur anak-anak. Tradisi ini menjadi ruang pendidikan budaya dalam keluarga. Karena itu, menjaga tutu koda berarti menjaga identitas budaya Lamaholot.
Warisan Lisan
Tutu koda berasal dari bahasa Lamaholot yang bermakna bercerita. Namun, tradisi ini memiliki makna yang lebih luas.
Tutu koda menjadi media pewarisan budaya secara lisan. Dalam cerita hidup sejarah dan mitologi masyarakat. Penutur menyampaikan kisah dari generasi sebelumnya.
Baca juga: Penamaan Jalan Frans Lebu Raya Jadi Momentum Bersejarah Bagi Keluarga Lamaholot
Pendengar menerima cerita sebagai identitas budaya mereka. Tutu koda menjaga ingatan kolektif masyarakat Lamaholot.
Pada masa lalu, tutu koda hadir dalam kehidupan keluarga. Orangtua bercerita kepada anak-anak menjelang tidur malam. Kisah rakyat disampaikan dengan bahasa sederhana dan hangat.
Anak-anak belajar memahami kehidupan melalui cerita rakyat. Mereka mengenal keberanian dan kejujuran dari tokoh cerita. Nilai budaya diwariskan tanpa paksaan dan kekerasan. Tradisi tutur membangun suasana keluarga yang harmonis.
Tutu koda lahir sebelum masyarakat mengenal tulisan modern. Karena itu, cerita lisan menjadi media pengetahuan utama. Dalam cerita rakyat tersimpan pandangan hidup masyarakat.
Kisah-kisah itu menggambarkan relasi manusia dan alam. Setiap cerita mengandung pesan moral yang mendalam. Nilai budaya diwariskan melalui tutur para tetua adat. Tutu koda menjadi arsip hidup kebudayaan Lamaholot.
Tradisi lisan memiliki posisi penting dalam kehidupan masyarakat. Banyak kebudayaan bertahan melalui cerita rakyat dan dongeng.
Tutu koda menunjukkan kekayaan intelektual masyarakat Lamaholot. Cerita rakyat bukan sekadar hiburan bagi anak-anak kampung.
Cerita menjadi cermin cara masyarakat memahami kehidupan. Dalam cerita hidup etika dan keyakinan masyarakat. Karena itu, tutu koda perlu terus dilestarikan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Yoseph-Yoneta-Motong-Wuwur.jpg)