Sabtu, 30 Mei 2026

Opini Dr David RE Selan SE MM

Tenaga Migran NTT: Di Antara Harapan Hidup dan Risiko Pulang dalam Peti Jenazah

Sesungguhnya, yang dibutuhkan masyarakat NTT bukan sekadar kesempatan untuk pergi bekerja ke luar—tetapi kesempatan untuk hidup layak

Tayang:
Editor: Sipri Seko
POS-KUPANG.COM/POS-KUPANG.COM/HO
Dr. David Selan, SE, MM 

GELOMBANG pemulangan jenazah pekerja migran asal Nusa Tenggara Timur yang terus terjadi akhir-akhir ini-terutama ke Kabupaten Malaka, Belu, Timor Tengah Selatan, dan Kabupaten Kupang—menjadi luka bersama yang tidak boleh dianggap biasa. Setiap peti jenazah yang tiba di Bandara El Tari bukan sekadar angka statistik, tetapi membawa cerita duka, kehilangan, dan kegagalan negara menghadirkan perlindungan bagi warganya.

Data Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) NTT mencatat 127 pekerja migran asal NTT meninggal di luar negeri sepanjang 2025, dan mayoritas besar berstatus non-prosedural. Bahkan pada awal 2026, pemulangan jenazah masih terus terjadi, dengan sebagian besar berasal dari wilayah kantong migrasi seperti Malaka dan TTS.

Sebagaimana disampaikan Pater Hironimus Moensaku, fenomena ini perlu dilihat bukan hanya sebagai persoalan migrasi tenaga kerja, tetapi sebagai persoalan sosial yang sangat dalam. Banyak anak muda NTT meninggalkan kampung halaman bukan karena ingin merantau semata, tetapi karena merasa tidak memiliki pilihan kerja yang layak di daerah sendiri.

 

Kajian dari Aspek Sosial

Secara sosial, migrasi pekerja dari NTT lahir dari tekanan hidup yang nyata: terbatasnya lapangan pekerjaan formal di desa maupun kota; minimnya industri pengolahan yang menyerap tenaga kerja lokal; rendahnya pendapatan keluarga petani; kebutuhan membiayai sekolah anak, membangun rumah, dan menopang ekonomi keluarga.

Di banyak keluarga di Malaka, Belu, TTS, maupun Kabupaten Kupang, bekerja ke Malaysia, Kalimantan, atau Sulawesi sudah menjadi budaya ekonomi keluarga. Merantau dianggap jalan tercepat keluar dari kemiskinan.

Malaysia masih menjadi negara tujuan utama pekerja migran asal NTT, khususnya pada sektor perkebunan kelapa sawit, konstruksi, dan pekerja domestik. Data BP3MI menunjukkan penempatan tertinggi memang ke Malaysia. Di dalam negeri, banyak tenaga kerja asal NTT juga terserap di perkebunan sawit di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Sulawesi Tengah.

Namun persoalannya, banyak yang berangkat melalui jalur non-prosedural. Karena itu ketika sakit, mengalami kecelakaan kerja, kekerasan, atau meninggal dunia, mereka sangat rentan dan sulit memperoleh perlindungan hukum.

 

Ironi Besar NTT

Ironinya, NTT dikenal kaya akan lahan pertanian, peternakan, perikanan, dan tenaga muda usia produktif. Tetapi di saat yang sama banyak anak mudanya justru bekerja di kebun sawit milik daerah lain atau di luar negeri.

NTT sesungguhnya sedang menghadapi paradoks: tenaga kerja melimpah, tetapi pekerjaan terbatas. sumber daya ada, tetapi belum diolah menjadi sumber ekonomi produktif.

Karena itu migrasi bukan semata pilihan pribadi, tetapi sering kali merupakan keterpaksaan ekonomi.

 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved