Opini
Opini: Mencari Makna Hidup di Tengah Semesta yang Terus Berevolusi
Manusia dapat memahami banyak hal tentang dunia, tetapi belum tentu memahami dirinya sendiri dan tujuan keberadaannya.
Perspektif Pierre Teilhard de Chardin
Oleh: Yohanes Baptista Virani Wogo
Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Di tengah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berlangsung sangat cepat, manusia modern semakin sering berhadapan dengan pertanyaan paling mendasar dalam hidupnya: untuk apa manusia hidup?
Kemajuan sains telah memungkinkan manusia menjelajahi ruang angkasa, memahami sejarah evolusi kehidupan, serta menciptakan berbagai teknologi yang mempermudah kehidupan sehari-hari.
Namun, di balik berbagai pencapaian tersebut, manusia sering kali tetap mengalami kegelisahan eksistensial.
Teknologi memang dapat mempermudah hidup, tetapi tidak selalu menghadirkan makna yang lebih dalam.
Manusia dapat memahami banyak hal tentang dunia, tetapi belum tentu memahami dirinya sendiri dan tujuan keberadaannya.
Baca juga: Opini: Satu Momen, Banyak Tafsir- Polemik Gawai Pejabat di Era Digital
Pada saat yang sama, perkembangan kosmologi modern memperlihatkan bahwa alam semesta bukanlah realitas yang diam dan tetap.
Berbagai penemuan ilmiah menunjukkan bahwa semesta terus berkembang dan mengalami perubahan.
Teori mengenai asal-usul kosmos dan evolusi kehidupan memperlihatkan bahwa seluruh realitas berada dalam proses yang dinamis.
Akan tetapi, perkembangan pemahaman ilmiah tersebut terkadang menimbulkan kesan bahwa manusia hanyalah bagian kecil dari proses material yang berlangsung secara kebetulan.
Kehidupan dipandang sekadar hasil evolusi biologis tanpa arah dan tujuan yang pasti.
Pandangan seperti ini sering membawa manusia pada krisis makna karena keberadaannya tampak kehilangan tujuan yang lebih besar.
Dalam situasi demikian, pemikiran Pierre Teilhard de Chardin menjadi menarik untuk direfleksikan kembali.
Teilhard merupakan seorang imam Katolik sekaligus ilmuwan dan ahli paleontologi yang berusaha mempertemukan ilmu pengetahuan dan iman.
Baginya, evolusi bukan ancaman bagi agama, melainkan jalan untuk memahami karya Allah yang hadir dalam sejarah alam semesta. Ia menolak pandangan bahwa kosmos berkembang secara acak tanpa arah.
| Opini: Magnifica Humanitas- Refleksi Paus Leo XIV atas Perbudakan Digital dan Realitas NTT |
|
|---|
| Opini: Minus Malum dalam Pendidikan di NTT |
|
|---|
| Opini - Membangun Kesadaran Ekologis Kota Kupang: Sebuah Refleksi Kosmologis |
|
|---|
| Opini - Refleksi Budaya Lokal NTT dalam Terang Stoisisme |
|
|---|
| Opini: Menalar Konflik Film Pesta Babi dalam Perspektif Politik Pengakuan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Yohanes-Baptista-Virani-Wogo.jpg)