Selasa, 12 Mei 2026

Opini

Opini: Mazmur Mazmur Nusantara

Laut mengajarkan solidaritas. Ombak mengajarkan ketangguhan. Perahu mengajarkan kebersamaan. Badai mengajarkan kerendahan hati.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI MIKE KERAF
Mike Keraf 

Belajar dari Pesisir Lamalera untuk Menyelamatkan Masa Depan Indonesia

Oleh: Mike Keraf, CSsR *

POS-KUPANG.COM - Indonesia selama ini terlalu sering membaca dirinya dari daratan. Padahal negeri ini lahir dari laut.

Kita membangun pusat-pusat pertumbuhan ekonomi di kota-kota besar, mengejar industrialisasi, membicarakan hilirisasi, investasi, dan pembangunan infrastruktur; tetapi pada saat yang sama, kita perlahan kehilangan percakapan paling mendasar tentang bagaimana manusia Indonesia seharusnya hidup bersama alam.

Akibatnya, kita menyaksikan ironi besar: negeri kepulauan terbesar di dunia justru sedang mengalami krisis ekologis yang semakin mengkhawatirkan. 

Baca juga: Opini: Lamalera dan Dunia yang Hampir Kehilangan Jiwa

Laut tercemar, pesisir rusak, nelayan kecil tersingkir, hutan mangrove dihancurkan, tradisi maritim ditinggalkan, sementara manusia modern semakin terasing dari akar spiritualitas ekologisnya sendiri.

Dalam situasi seperti ini, Indonesia sesungguhnya membutuhkan lebih dari sekadar kebijakan teknokratis. 

Kita membutuhkan narasi baru. Kita membutuhkan cara pandang baru tentang relasi manusia, alam, dan Yang Ilahi.

Karena itu, saya percaya bahwa salah satu jalan penting untuk menyelamatkan masa depan Indonesia justru dapat dimulai dari kampung-kampung pesisir—dari tempat-tempat yang selama ini dianggap kecil, terpencil, dan berada di pinggiran sejarah pembangunan nasional.

Salah satunya adalah Lamalera.  

Lamalera di Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur, bukan sekadar kampung nelayan tradisional. Ia adalah ruang hidup yang menyimpan filsafat mendalam tentang hubungan manusia dengan laut, alam, sesama, dan Tuhan. 

Di sana, laut tidak dipahami sebagai objek eksploitasi tanpa batas, tetapi sebagai ruang sakral kehidupan bersama.

Orang Lamalera hidup dalam kesadaran bahwa manusia tidak pernah benar-benar menjadi penguasa alam. 

Manusia hanyalah bagian kecil dari kosmos yang lebih besar. Karena itu, laut harus dihormati, dijaga, dan diperlakukan dengan penuh tanggung jawab moral.

Kesadaran semacam ini menjadi sangat penting di tengah dunia modern yang cenderung memandang alam hanya sebagai komoditas ekonomi.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved