Opini
Opini: Yesus di Pantai, Bukan di Istana
Ia muncul di tempat yang paling tidak strategis secara politik: di pesisir Danau Tiberias, di antara nelayan gagal dan jala kosong.
Gereja dipanggil untuk tidak sekadar menjadi institusi spiritual, tetapi komunitas profetis yang membaca tanda zaman. Dalam konteks Sabu Raijua, ini berarti:
- Mendirikan basis pastoral berbasis pesisir – Pendeta dan pelayan gereja harus dilatih untuk memahami isu-isu kelautan, ekologi laut, dan ekonomi nelayan. Gereja harus membumikan teologi di dermaga, bukan hanya di mimbar.
- Mendorong gereja menjadi koperasi – Gereja bisa menjadi pionir dalam membentuk koperasi nelayan berbasis jemaat, menciptakan ekonomi alternatif yang adil dan partisipatif.
- Mengembangkan liturgi inkulturatif laut – Ibadah harus mencerminkan realitas komunitas pesisir: syukur atas panen laut, doa untuk musim angin, dan refleksi atas tanggung jawab ekologis.
- Membangun pusat data sosial gerejawi – Gereja perlu memiliki peta kemiskinan, data perahu rusak, dan kebutuhan komunitas nelayan agar pelayanan tidak buta data.
- Beraliansi dengan pemerintah daerah secara kritis – Gereja tidak bisa hanya menjadi mitra seremoni pemerintah. Ia harus menjadi sahabat yang setia sekaligus pengeritik yang tajam jika kebijakan menyimpang dari keadilan.
Kesimpulan: Sarapan di Pantai, Bukan Pidato di Aula
Perjumpaan Yesus di pantai bukan sekadar momen emosional. Itu adalah deklarasi model kepemimpinan alternatif.
Ketika penguasa Romawi memeras pajak dari rakyat, Yesus justru memberi makan dengan tangan sendiri.
Ketika Herodes membangun kota Tiberias untuk menyenangkan Kaisar, Yesus membangun bara api di pantai untuk menyenangkan murid-murid yang lapar.
Model ini bukan hanya relevan secara spiritual, tetapi revolusioner secara sosial.
Pertanyaan bagi gereja dan pemerintah Sabu Raijua hari ini adalah: apakah kita masih terjebak dalam kuasa kata yang mengawang-awang, atau berani menghadirkan kuasa kata yang menjadi ikan di piring, perahu yang layak, dan harga jual yang adil?
Tuhan tidak tinggal di istana. Ia menunggu di pantai. Di antara rakyat yang letih menjala, di antara bara api yang hangat, di antara roti dan ikan yang sungguh mengenyangkan. Dan Ia masih berkata kepada kita semua: “Marilah dan sarapanlah.” (*)
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
| Opini: Ilusi “Profesor Menjamur” dan Krisis Nalar Kebijakan Pendidikan Tinggi |
|
|---|
| Opini: Kerahiman Ilahi- Jalan Pulang Menuji Hati yang Diperbaharui |
|
|---|
| Opini: Generasi Cemas di Tengah Dunia yang Tidak Pasti |
|
|---|
| Opini: AI dan Krisis Pendidikan Gen Z-Alpha |
|
|---|
| Opini: Holding Daerah- Mesin Transformasi Menuju Kemandirian Fiskal |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/John-Mozes-Hendrik-Wadu-Neru.jpg)