Opini
Opini: Hemat Pangkal Miskin- Nasihat Moral Yang Membungkam Realitas Kemiskinan NTT
Dengan demikian, “hemat pangkal kaya” tetap memiliki nilai moral dalam membentuk kedisiplinan individu dalam mengelola ekonomi.
Oleh: Andriano Hendrikus Wangga
Mahasiswa Fakultas Filsafaf Unwira Kupang, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Hemat pangkal kaya merupakan pepatah moral yang menekankan pentingnya disiplin dalam mengelola ekonomi melalui sikap hidup hemat dan pengendalian konsumsi sebagai jalan menuju kesejahteraan.
Dalam pandangan umum, pepatah ini sering dipahami sebagai pedoman etis dalam membangun kehidupan ekonomi yang stabil dan sukses.
Namun, jika ditelaah secara kritis, pepatah ini berpotensi menyederhanakan persoalan ekonomi hanya pada aspek pengelolaan individu, seolah-olah kesejahteraan sepenuhnya bergantung pada kemampuan seseorang mengatur pengeluaran dan menabung, tanpa mempertimbangkan kondisi sosial-ekonomi yang membatasi pilihan tersebut.
Baca juga: Opini: Tambal Jalan, Co-Production dan Civic Partnership
Dalam praktiknya, penekanan yang berlebihan pada sikap hemat justru dapat menggeser perhatian dari faktor-faktor struktural yang lebih kompleks, seperti keterbatasan akses pendidikan, sempitnya lapangan kerja, serta ketimpangan pembangunan ekonomi.
Dalam konteks tertentu, termasuk wilayah seperti Nusa Tenggara Timur, kondisi ekonomi yang tidak stabil sering kali membentuk pola hidup bertahan (survival economy), di mana pendapatan yang diperoleh hari ini langsung habis untuk memenuhi kebutuhan dasar.
Situasi ini bukan semata-mata soal pilihan individu, melainkan konsekuensi dari terbatasnya ruang ekonomi untuk melakukan akumulasi modal secara berkelanjutan.
Di Balik Hemat: Struktur yang Menentukan
Di balik praktik “hemat”, terdapat struktur sosial dan ekonomi yang secara tidak langsung menentukan sejauh mana seseorang dapat benar-benar menabung, berinvestasi, atau bahkan keluar dari kondisi kemiskinan.
Dalam masyarakat yang ditandai oleh ketimpangan akses pendidikan, pekerjaan, dan distribusi sumber daya, hemat tidak selalu berujung pada akumulasi kekayaan.
Ia justru sering menjadi strategi bertahan hidup dalam keterbatasan, bukan jalan menuju mobilitas sosial.
Dengan demikian, hemat tidak dapat dipisahkan dari struktur yang melingkupinya. Apa yang tampak sebagai pilihan individu sesungguhnya sering kali dibentuk oleh kondisi ekonomi yang lebih luas.
Dalam kerangka ini, gagasan bahwa “hemat pangkal kaya” menjadi problematis, karena mengabaikan kenyataan bahwa tidak semua individu memiliki posisi yang sama dalam sistem ekonomi yang ada.
Hemat sebagai Kesadaran Semu
Dalam perspektif yang lebih kritis, gagasan “hemat pangkal kaya” tidak hanya dapat dipahami sebagai nasihat moral, tetapi juga sebagai bentuk pembentukan cara pandang yang tampak wajar namun menyembunyikan realitas yang lebih dalam.
Individu diarahkan untuk meyakini bahwa kondisi ekonomi sepenuhnya ditentukan oleh kedisiplinan pribadi dalam berhemat, sehingga kemiskinan sering kali dipahami sebagai akibat dari kegagalan individu itu sendiri dalam berhemat.
Cara pandang semacam ini dapat dipahami sebagai bentuk False Consciousness, yaitu kesadaran yang tampak benar secara permukaan, tetapi sebenarnya menutupi struktur sosial-ekonomi yang lebih menentukan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Andriano-Hendrikus-Wangga.jpg)