Sabtu, 11 April 2026

Opini

Opini: Generasi Cemas di Tengah Dunia yang Tidak Pasti

Kecemasan muncul karena manusia bebas, tetapi kebebasan itu sendiri tidak pernah menawarkan jaminan.

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI ALDO FERNANDES
Aldo Fernandes 

Oleh: Aldo Fernandes 
Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Sejak awal, manusia adalah makhluk yang sadar akan dirinya dan masa depannya. Kesadaran ini bukan hanya anugerah, tetapi juga beban. 

Dalam dunia filsafat, kecemasan kerap dipahami bukan sekadar gangguan psikologis, melainkan bagian dari struktur eksistensi manusia itu sendiri. 

Manusia cemas karena ia tahu bahwa hidupnya terbatas, bahwa masa depannya tidak sepenuhnya dapat dikendalikan, dan bahwa setiap pilihan mengandung risiko kehilangan. 

Dalam terang pemikiran Søren Kierkegaard, kecemasan bahkan disebut sebagai “pusingnya kebebasan” sebuah keadaan di mana manusia dihadapkan pada kemungkinan-kemungkinan yang tak terbatas, namun sekaligus tidak memiliki kepastian. 

Kecemasan muncul karena manusia bebas, tetapi kebebasan itu sendiri tidak pernah menawarkan jaminan.

Apa yang dahulu menjadi refleksi filosofis kini menjadi realitas sehari-hari. Generasi hari ini tidak hanya mengalami kecemasan sebagai konsep, tetapi sebagai pengalaman konkret. 

Mereka hidup di tengah dunia yang berubah dengan cepat, penuh ketidakpastian, dan sering kali kehilangan arah. Maka, “generasi cemas” bukanlah sekadar label, melainkan cermin dari kondisi zaman.

Wajah Dunia yang Tidak Stabil

Jika kecemasan adalah bagian dari eksistensi manusia, maka dunia modern memperkuatnya dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya. 

Ketidakpastian kini bukan lagi sesuatu yang sesekali datang, tetapi menjadi atmosfer yang menyelimuti kehidupan sehari-hari. 

Perubahan global yang cepat mulai dari krisis ekonomi, perubahan iklim, hingga perkembangan teknologi menciptakan realitas yang sulit diprediksi. 

Dunia yang dahulu terasa lebih stabil kini berubah menjadi ruang yang cair dan rapuh. Apa yang hari ini dianggap pasti, besok bisa runtuh tanpa peringatan.

Teknologi, terutama media sosial, turut memperumit keadaan. Ia tidak hanya menyajikan informasi, tetapi juga membentuk cara manusia melihat dirinya. 

Standar hidup yang ditampilkan sering kali tidak realistis, sehingga memicu perbandingan yang melelahkan. 

Dalam diam, banyak orang merasa tertinggal, gagal, atau tidak cukup baik. Di sisi lain, dunia kerja juga mengalami transformasi besar. Stabilitas yang dulu menjadi harapan kini berubah menjadi ketidakpastian. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved