Opini
Opini: AI dan Krisis Pendidikan Gen Z-Alpha
Dalam tradisi filsafat, Immanuel Kant menekankan pentingnya manusia sebagai subjek yang berpikir otonom.
Oleh: Fladimir Sie
Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah mengubah wajah pendidikan secara drastis.
Generasi Z dan Generasi Alpha kini hidup dalam dunia di mana jawaban tersedia dalam hitungan detik, tugas dapat diselesaikan oleh mesin, dan proses belajar sering kali dipersingkat oleh teknologi.
Dalam situasi ini, muncul pertanyaan mendasar: apakah kita sedang membentuk generasi yang semakin pintar, atau justru generasi yang semakin instan?
Pendidikan sejatinya bukan hanya soal memperoleh jawaban, tetapi tentang proses menjadi manusia.
Baca juga: Opini: Holding Daerah- Mesin Transformasi Menuju Kemandirian Fiskal
Dalam tradisi filsafat, Immanuel Kant menekankan pentingnya manusia sebagai subjek yang berpikir otonom.
Pendidikan, karena itu, tidak boleh direduksi menjadi sekadar transfer informasi, melainkan harus menjadi ruang pembentukan nalar kritis dan tanggung jawab moral.
Namun, realitas hari ini menunjukkan kecenderungan yang mengkhawatirkan. Banyak pelajar dan mahasiswa mulai bergantung pada AI untuk menyelesaikan tugas-tugas akademik—dari menjawab soal hingga menulis esai.
Memang, AI menawarkan kemudahan. Tetapi ketika kemudahan ini menggantikan proses berpikir, maka pendidikan kehilangan makna terdalamnya.
Generasi Z dan Alpha tumbuh dalam budaya instan—budaya yang menekankan hasil
cepat tanpa proses yang mendalam.
Ketika segala sesuatu bisa diperoleh dengan mudah, ketekunan, kesabaran, dan daya juang dalam belajar menjadi semakin tergerus.
Pendidikan berisiko berubah menjadi sekadar produksi output, bukan lagi proses pembentukan pribadi.
Dalam perspektif iman Kristiani, situasi ini perlu disikapi secara serius. Dokumen Gaudium et Spes menegaskan bahwa manusia memiliki martabat luhur karena diciptakan menurut gambar Allah (GS 12), dan hanya dapat menemukan dirinya melalui pemberian diri yang tulus (GS 24).
Artinya, pendidikan harus mengarah pada pembentukan manusia seutuhnya—bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral dan
spiritual.
Di sinilah letak krisis pendidikan di era AI: hilangnya keseimbangan antara
kemudahan teknologi dan kedalaman manusia.
| Opini: Holding Daerah- Mesin Transformasi Menuju Kemandirian Fiskal |
|
|---|
| Opini: Ketika Hujan Tak Datang, Siapa yang Kita Jaga? |
|
|---|
| Opini: Laporan Keuangan Daerah-Antara Kewajiban Regulasi dan Tanggung Jawab Publik |
|
|---|
| Opini: Diagnosa Dini- Jembatan Memperpanjang Hidup |
|
|---|
| Opini: Flores Timur di Persimpangan ETMC 2026 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Fladimir-Sie-03.jpg)