Opini
Opini: Yesus di Pantai, Bukan di Istana
Ia muncul di tempat yang paling tidak strategis secara politik: di pesisir Danau Tiberias, di antara nelayan gagal dan jala kosong.
Oleh: Pdt. John Mozes Hendrik Wadu Neru
Pendeta Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT), berkarya di Sabu Raijua
POS-KUPANG.COM - Ketika Yesus bangkit dari kematian, Ia tidak memilih menampakkan diri di Bait Allah, di hadapan para imam kepala, atau di forum Romawi yang bergelimang kuasa.
Ia muncul di tempat yang paling tidak strategis secara politik: di pesisir Danau Tiberias, di antara nelayan gagal dan jala kosong.
Dalam Yohanes 21, kita menemukan narasi spiritual yang tidak hanya teologis, tetapi juga subversif: Yesus memindahkan ruang perjumpaan dari pusat kekuasaan ke ruang pinggiran.
Dari altar ke pantai. Dari kuasa elite ke kelaparan rakyat kecil. Ini bukan sekadar pilihan lokasi, melainkan sebuah pernyataan politik. Tuhan berpihak pada ruang yang dilupakan.
Jika Danau Tiberias menjadi simbol konflik ekonomi-politik masa Romawi, maka pesisir Sabu Raijua hari ini menjadi cerminan nyata dari ketimpangan serupa — di mana janji-janji pembangunan tidak mampu menembus kabut asin dan matahari yang membakar ruang hidup masyarakat pesisir.
Dalam ruang itu, gereja dan negara hadir, namun kerap hanya melalui retorika, bukan melalui roti dan ikan yang sungguh mengenyangkan.
Sabu Raijua: Realitas Pesisir yang Ditinggalkan
Sabu Raijua adalah kabupaten kepulauan di Provinsi Nusa Tenggara Timur, terdiri dari pulau-pulau kecil dengan garis pantai yang panjang dan komunitas nelayan yang menggantungkan hidup pada laut.
Namun data menunjukkan bahwa mereka hidup dalam kerentanan struktural yang terus-menerus.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa pada tahun 2023, tingkat kemiskinan di Sabu Raijua mencapai 28,31 persen —angka yang berada jauh di atas rata-rata nasional.
Penduduk miskin di daerah pesisir umumnya bekerja sebagai nelayan kecil, petani garam, atau buruh musiman.
Kegiatan penangkapan ikan masih didominasi oleh peralatan tradisional dan berskala kecil, dengan hasil yang tidak menentu.
Infrastruktur pelabuhan tidak memadai, akses ke pasar terbatas, dan sistem distribusi hasil laut masih dikendalikan oleh tengkulak.
Di saat negara mengumbar retorika tentang poros maritim dunia, masyarakat pesisir di Sabu Raijua bahkan kesulitan mendapatkan es batu untuk mengawetkan ikan.
Sosiolog maritim seperti R. E. Puspitasari menegaskan bahwa bentuk kemiskinan masyarakat pesisir bukan disebabkan oleh malas bekerja atau kurangnya potensi alam, melainkan oleh ketimpangan struktural: keterbatasan akses terhadap modal, teknologi, informasi, dan kebijakan yang adil.
Di titik ini, “jala kosong” para murid di Tiberias menjadi metafora yang sangat relevan: kerja keras semalam suntuk yang tak menghasilkan apa-apa. Lalu, ke mana gereja? Ke mana pemerintah daerah?
Kuasa Kata yang Gagal Menjadi Daging
Daerah Sabu Raijua sering kali merilis dokumen RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah) dengan visi “berbasis potensi lokal dan maritim.”
Tapi seperti banyak kebijakan publik lainnya, kata-kata ini lebih kuat di atas kertas daripada di lapangan.
Kuasa kata—yang dalam Alkitab mencipta dunia (“Jadilah terang”)—di tangan birokrasi menjadi retorika yang tidak melahirkan terang, melainkan kabut.
Dalam kurun waktu 2020–2024, beberapa program kelautan dan perikanan seperti bantuan kapal, program bioflok, hingga pelatihan nelayan telah diluncurkan.
Namun banyak inisiatif itu terjebak dalam logika proyek: datang, laksanakan, dokumentasikan, lalu tinggalkan.
Belum menyentuh akar persoalan struktural seperti minimnya akses BBM bersubsidi, tidak tersedianya cold storage yang memadai, hingga absennya jaminan harga yang adil bagi hasil laut nelayan lokal.
Yesus berkata: “Tebarkan jalamu di sebelah kanan.” Kata itu menghasilkan tangkapan 153 ikan besar.
Sementara banyak kata dari pemerintah hanya menghasilkan laporan keberhasilan yang gemuk, tapi piring rakyat tetap kosong.
Gereja: Terlalu Banyak Khotbah, Terlalu Sedikit Bara Api
Ironisnya, Gereja pun tidak jauh berbeda. Pelayanan seringkali bersifat ritualistik dan simbolik, tanpa transformasi sosial yang nyata.
Di banyak wilayah pesisir, gereja hadir sebagai institusi moral, namun belum cukup menjadi institusi profetis.
Padahal, dalam Yohanes 21, Yesus bukan hanya berkhotbah—Ia juga menyalakan bara api, memanggang ikan, dan berkata: “Marilah dan sarapanlah.”
Itu bukan sekadar ajakan makan, tapi lambang pemulihan martabat, relasi, dan harapan.
Mengikuti pemikiran teolog kelautan seperti Daniel L. Smith-Christopher, kita diajak untuk membayangkan ulang kehadiran gereja di wilayah pesisir.
Bagi Smith-Christopher, laut bukan hanya bentangan geografis, tetapi ruang spiritual dan politis—tempat di mana Tuhan hadir dan bekerja.
Jika gereja hanya berfungsi sebagai tempat ibadah hari Minggu, sementara umat-Nya bergumul sepanjang minggu di laut dan pantai tanpa pendampingan, maka gereja telah gagal menginkarnasikan Injil dalam konteksnya yang nyata.
Di Sabu Raijua, gereja memiliki potensi besar. Jaringan jemaat tersebar hingga pelosok desa, menciptakan ruang spiritual yang juga bisa menjadi ruang pemberdayaan sosial.
Namun potensi ini belum sepenuhnya digerakkan menjadi gerakan advokasi struktural.
Gereja masih terlalu nyaman dalam peran karitatif: membagi sembako, menyelenggarakan KKR, atau mengadakan retret pemuda.
Belum cukup banyak gereja yang bersuara lantang soal reklamasi
pantai, kerusakan ekosistem laut, atau monopoli distribusi hasil laut oleh pemilik modal luar.
Ruang Pesisir sebagai Ruang Kudus yang Baru
Yesus yang bangkit memilih pantai sebagai tempat perjumpaan. Ini bukan kebetulan.
Ini adalah redefinisi ruang kudus. Ia tidak memilih bait suci di Yerusalem, tapi memilih perahu dan pasir.
Dalam konteks Sabu Raijua hari ini, Yesus tidak akan ditemukan di ruang rapat bupati, tetapi di antara perahu nelayan yang retak.
Ia tidak duduk di altar marmer, tetapi menyalakan bara api di pantai Raijua, sambil berkata: “Mari dan sarapanlah.”
Ruang pesisir yang selama ini dianggap “non-prioritas” dalam pembangunan, justru menjadi ruang kudus yang baru.
Di sinilah gereja dan negara diuji: apakah kata-kata mereka melahirkan ikan dan roti, atau sekadar gema kosong di antara ombak?
Gereja dipanggil untuk tidak sekadar menjadi institusi spiritual, tetapi komunitas profetis yang membaca tanda zaman. Dalam konteks Sabu Raijua, ini berarti:
- Mendirikan basis pastoral berbasis pesisir – Pendeta dan pelayan gereja harus dilatih untuk memahami isu-isu kelautan, ekologi laut, dan ekonomi nelayan. Gereja harus membumikan teologi di dermaga, bukan hanya di mimbar.
- Mendorong gereja menjadi koperasi – Gereja bisa menjadi pionir dalam membentuk koperasi nelayan berbasis jemaat, menciptakan ekonomi alternatif yang adil dan partisipatif.
- Mengembangkan liturgi inkulturatif laut – Ibadah harus mencerminkan realitas komunitas pesisir: syukur atas panen laut, doa untuk musim angin, dan refleksi atas tanggung jawab ekologis.
- Membangun pusat data sosial gerejawi – Gereja perlu memiliki peta kemiskinan, data perahu rusak, dan kebutuhan komunitas nelayan agar pelayanan tidak buta data.
- Beraliansi dengan pemerintah daerah secara kritis – Gereja tidak bisa hanya menjadi mitra seremoni pemerintah. Ia harus menjadi sahabat yang setia sekaligus pengeritik yang tajam jika kebijakan menyimpang dari keadilan.
Kesimpulan: Sarapan di Pantai, Bukan Pidato di Aula
Perjumpaan Yesus di pantai bukan sekadar momen emosional. Itu adalah deklarasi model kepemimpinan alternatif.
Ketika penguasa Romawi memeras pajak dari rakyat, Yesus justru memberi makan dengan tangan sendiri.
Ketika Herodes membangun kota Tiberias untuk menyenangkan Kaisar, Yesus membangun bara api di pantai untuk menyenangkan murid-murid yang lapar.
Model ini bukan hanya relevan secara spiritual, tetapi revolusioner secara sosial.
Pertanyaan bagi gereja dan pemerintah Sabu Raijua hari ini adalah: apakah kita masih terjebak dalam kuasa kata yang mengawang-awang, atau berani menghadirkan kuasa kata yang menjadi ikan di piring, perahu yang layak, dan harga jual yang adil?
Tuhan tidak tinggal di istana. Ia menunggu di pantai. Di antara rakyat yang letih menjala, di antara bara api yang hangat, di antara roti dan ikan yang sungguh mengenyangkan. Dan Ia masih berkata kepada kita semua: “Marilah dan sarapanlah.” (*)
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
| Opini: Ilusi “Profesor Menjamur” dan Krisis Nalar Kebijakan Pendidikan Tinggi |
|
|---|
| Opini: Kerahiman Ilahi- Jalan Pulang Menuji Hati yang Diperbaharui |
|
|---|
| Opini: Generasi Cemas di Tengah Dunia yang Tidak Pasti |
|
|---|
| Opini: AI dan Krisis Pendidikan Gen Z-Alpha |
|
|---|
| Opini: Holding Daerah- Mesin Transformasi Menuju Kemandirian Fiskal |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/John-Mozes-Hendrik-Wadu-Neru.jpg)