Rabu, 15 April 2026

Opini

Opini: Yesus di Pantai, Bukan di Istana

Ia muncul di tempat yang paling tidak strategis secara politik: di pesisir Danau Tiberias, di antara nelayan gagal dan jala kosong. 

Editor: Dion DB Putra
DOK PRIBADI
Pdt. John Mozes Hendrik Wadu Neru 

Itu bukan sekadar ajakan makan, tapi lambang pemulihan martabat, relasi, dan harapan.

Mengikuti pemikiran teolog kelautan seperti Daniel L. Smith-Christopher, kita diajak untuk membayangkan ulang kehadiran gereja di wilayah pesisir. 

Bagi Smith-Christopher, laut bukan hanya bentangan geografis, tetapi ruang spiritual dan politis—tempat di mana Tuhan hadir dan bekerja. 

Jika gereja hanya berfungsi sebagai tempat ibadah hari Minggu, sementara umat-Nya bergumul sepanjang minggu di laut dan pantai tanpa pendampingan, maka gereja telah gagal menginkarnasikan Injil dalam konteksnya yang nyata.

Di Sabu Raijua, gereja memiliki potensi besar. Jaringan jemaat tersebar hingga pelosok desa, menciptakan ruang spiritual yang juga bisa menjadi ruang pemberdayaan sosial. 

Namun potensi ini belum sepenuhnya digerakkan menjadi gerakan advokasi struktural. 

Gereja masih terlalu nyaman dalam peran karitatif: membagi sembako, menyelenggarakan KKR, atau mengadakan retret pemuda. 

Belum cukup banyak gereja yang bersuara lantang soal reklamasi
pantai, kerusakan ekosistem laut, atau monopoli distribusi hasil laut oleh pemilik modal luar.

Ruang Pesisir sebagai Ruang Kudus yang Baru

Yesus yang bangkit memilih pantai sebagai tempat perjumpaan. Ini bukan kebetulan. 

Ini adalah redefinisi ruang kudus. Ia tidak memilih bait suci di Yerusalem, tapi memilih perahu dan pasir. 

Dalam konteks Sabu Raijua hari ini, Yesus tidak akan ditemukan di ruang rapat bupati, tetapi di antara perahu nelayan yang retak. 

Ia tidak duduk di altar marmer, tetapi menyalakan bara api di pantai Raijua, sambil berkata: “Mari dan sarapanlah.”

Ruang pesisir yang selama ini dianggap “non-prioritas” dalam pembangunan, justru menjadi ruang kudus yang baru. 

Di sinilah gereja dan negara diuji: apakah kata-kata mereka melahirkan ikan dan roti, atau sekadar gema kosong di antara ombak?

Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved