Cerpen
Cerpen: Aroma Latung Cero di Beranda Kenangan
Kakek adalah sosok lelaki bersahaja, dengan kulit legam yang menyimpan jejak ciuman matahari sepanjang hidupnya.
Sudah sembilan tahun sejak Kakek pergi, tapi setiap musim hujan seperti ini, aku merasa ia masih ada di sini.
***
Aku teringat satu sore, bertahun-tahun yang lalu. Hujan deras mengguyur tanpa henti.
Bersama Kakek, aku bersandar di beranda, menyaksikan rinai hujan menari di atas tanah, sembari menunggu langit menghapus kelabunya.
Di tangannya ada segenggam biji jagung, yang ia pilah-pilah dengan hati-hati.
“Kakek, kenapa hujan ini lama sekali?” tanyaku sambil menopang dagu.
“Hujan adalah berkat, Sula. Kalau dia lama, berarti Tuhan sedang memberikan kita lebih banyak berkat,” jawabnya dengan nada penuh kepastian.
Aku tidak mengerti sepenuhnya waktu itu. Bagaimana mungkin hujan yang membuatku terkurung di rumah disebut berkat?
Namun kini, saat bayangnya kembali menjejak ingatan,perlahan kusadari makna yang terselip di balik kenangan itu.
Hujan membawa banyak kenangan indah yang menjadi pelipur lara di hari-hari sepi seperti ini.
“Hari ini, kita santap latung cero ditemani pareng saung tago, bagaimana menurutmu?”
Kakek melanjutkan sambil tersenyum. “Nanti kau bantu Kakek menggoreng, ya?”
Aku mengangguk antusias. Aku selalu senang ketika diajak Kakek ke dapur.
Meskipun tugas-tugasku sederhana memetik daun kacang panjang aku merasa seperti bagian penting dari prosesnya itu.
***
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Jagung-goreng-ilustrasi.jpg)