Cerpen
Cerpen: Tumbal
Sudah setahun ibu berpisah dengan kami untuk selamanya, urusan makan-minum di dalam rumah pun dilupakan begitu saja.
Oleh: Krisogonus Kusman *
POS-KUPANG.COM - Sebelum aku melepaskan pakaian sekolah dari tubuhku, bapak tiba-tiba muncul dari dapur.
Tangan kanannya menggenggam sebuah sabit berkilau, dan dua karung goni usang menggantung di pundaknya.
Raut wajahnya tak seperti biasa. Ia terlihat pucat. Matanya mata merah menyala, seolah sedang diancam oleh musuh. Tapi, musuh siapa yang berani mengancamnya?
Setahuku, ayah tak pernah berbuat salah dengan orang lain, meski tipikalnya keras dan dingin.
"Cepat ganti pakaian!" ujarnya dengan mata yang tajam. Suaranya menggelegar seperti badai yang mengguncang.
"Kita mau ke mana, pa?"
Baca juga: Cerpen: Sepatu Kesayangan
"Ahh... jangan banyak tanya! Makan dulu sana. Cepat!"
Di atas meja, tersisa nasi yang mengering bagai pasir di padang tandus dan garam halus bertabur di tutupan toples. Sedangkan sayur, lauk, dan buah-buahan tidak ada.
Seketika, aku langsung mengingat ibu. Dulu, sewaktu ibu masih hidup, makanan selalu tersedia di atas meja. Segala jenis masakan hangat dan aroma rempah-rempah memenuhi ruangan.
Tiap kali pulang sekolah, aku langsung dipanggil ibu menuju meja makan. Di atas meja, segalanya lengkap: nasi putih, ikan goreng, sayur hijau segar, dan buah-buahan manis. Berbeda dengan sekarang.
Sudah setahun ibu berpisah dengan kami untuk selamanya, urusan makan-minum di dalam rumah pun dilupakan begitu saja.
Bapak tak peduli lagi soal perut keluarga kami. Tiap hari, ia sibuk dengan pekerjaan yang ia sukai.
Namun, karena lapar menghantui lambung, aku berusaha lupa dengan masakan ibu.
Semua yang ada di atas meja itu langsung kuhabiskan. Barangkali, itulah satu-satunya pilihan bagi orang yang sedang dirundung kelaparan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Ilustrasi-pria-marah.jpg)