Jumat, 10 April 2026

Cerpen

Cerpen: Antara Cinta Terlarang 

Aku tidak pernah merasakan apa itu keheningan, bagiku kebebasan yang sejati adalah kebebasan yang tanpa batas.

Editor: Dion DB Putra
POS KUPANG/HO
ILUSTRASI 

Oleh: Boy Waro 
Mahasiswa yang sedang praktik pastoral di Flores, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM -  “Duniaku terasa terpenuhi, keinginan, nafsu dan kebutuhan pribadiku dan itu semua membentuk aku  menjadi pribadi yang angkuh. 

Aku tidak peduli kata orang tentang pola hidup yang sedang kunikmati. Aku tidak peduli apa itu kebenaran, kebaikan, apa lagi berbicara tentang kasih dan moral. 

Bagiku kebahagiaan tertinggi ketika aku mampu memenuhi keinginan daging, pesta pora, seks dan mabuk-mabukan.  

Aku tidak pernah merasakan apa itu keheningan, bagiku kebebasan yang sejati adalah kebebasan yang tanpa batas.” 

Baca juga: Puisi-puisi Kerry Dagur

Pada suatu malam di balik riuh rendah suara musik yang memekakkan telinga di sebuah bar sudut kota, terdapat dua jiwa yang merasa asing di tengah keramaian. 

Namaku Elias, aku adalah pemuda yang terjebak dalam pusaran gaya hidup serba instan, di mana cinta sering kali hanya sebatas pertemuan satu malam tanpa makna.
 
Di tengah kemabukkan  malam itu, aku bertemu dengan Maria. Pertemuan itu diawali oleh tawa yang dipaksakan dan gelas-gelas yang terus terisi. 

Bagi lingkungan kami, hubungan tanpa ikatan adalah hal lumrah sebuah kebebasan yang dianggap mutlak. 

Namun, semakin aku masuk ke dalam kehidupan Maria, aku menemukan sebuah luka yang disembunyikan di balik kemewahan pergaulan bebas itu: kehampaan yang mendalam.

Cinta kami tumbuh di tanah yang salah. Aku menyadari bahwa apa yang telah kami jalani selama ini hanyalah pelarian dari rasa sepi, bukan kasih yang membangun. 

Maria adalah pelukis yang kehilangan warnanya, sementara aku adalah penulis yang kehabisan kata-kata tulus.     

Memasuki Pekan Suci, suasana kota perlahan berubah. Lonceng gereja yang berdentang di kejauhan mulai mengusik kesadaranku. 

Aku teringat akan makna pengorbanan yang sesungguhnya bukan pengorbanan harga diri demi kesenangan sesaat, melainkan pengorbanan diri untuk sebuah pembaruan hidup. 

Pada malam Sabtu Suci, di sebuah studio kecil yang temaram, aku dan Maria duduk berhadapan. Tidak ada dentum musik, hanya suara napas yang berat.

“Kita sering menyebut ini kebebasan,” bisik Maria sambil menatap kanvasnya yang kosong. “Tapi kenapa aku merasa seperti dipenjara oleh keinginan-keinginanku sendiri?”

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved