Kamis, 23 April 2026

Cerpen

Cerpen: Aroma Latung Cero di Beranda Kenangan

Kakek adalah sosok lelaki bersahaja, dengan kulit legam yang menyimpan jejak ciuman matahari sepanjang hidupnya.

Editor: Dion DB Putra
freepik
ILUSTRASI 

Aku berdiri, meninggalkan beranda dan berjalan ke dapur. Segalanya terasa berbeda tanpa Kakek. 

Tungku kayu sudah digantikan dengan kompor gas, dan aroma masakan yang dulu memenuhi rumah kini jarang lagi ada. 

Namun hari ini, aku ingin membangkitkan kembali kenangan itu, memberi nyawa pada apa yang pernah terasa hangat di hati.

Aku ingin cero latung dan memetik saung tago, seperti yang dulu sering kami lakukan bersama.

Aku mulai dengan menyiapkan bahan-bahannya. Jagung kering, dan daun kacang panjang.

Tanganku bekerja, tapi pikiranku melayang-layang. Aku teringat bagaimana Kakek selalu memulai menggoreng dengan doa sederhana, memohon agar makanan yang kami buat membawa kebahagiaan.

“Sula, ingat, makanan ini bukan cuma untuk kenyang. Tapi juga untuk menyatukan hati,” begitu katanya.

Ketika jagung mulai digoreng di atas wajan, aroma harumnya langsung menguar. 

Sejenak, rasanya seperti Kakek kembali hadir. Aku hampir bisa mendengar suara tawanya yang hangat, bercampur dengan suara hujan di luar.

Tiba-tiba, air mataku menetes. Bukan karena sedih, tapi karena rasa rindu yang begitu kuat.

Kakek adalah sosok yang mengajarkanku banyak hal tanpa pernah merasa menggurui. 

Ia mengajarkan tentang cinta, kesabaran, dan arti kebersamaan, semuanya lewat hal-hal sederhana seperti memasak atau duduk bersama menikmati hujan.

***

Hidangan akhirnya siap. Aku membawa sepiring latung cero dan saung tago ke beranda.

Hujan masih mengguyur deras, persis seperti sembilan tahun yang lalu. 

Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved