Cerpen
Cerpen: Papan Luka
Sungai-sungai kecil mengalir pelan bagai doa yang tersendat, membisikkan rahasia leluhur kepada angin pegunungan.
“Kita semua adalah bagian dari bangsa ini. Apakah kami yang ada di desa dan di pelosok ini hanyalah patung yang siap ditebas dan dicaci maki? Lihatlah anak-anak ini.
Masa depan yang cerah masih membutuhkan proses yang dilakukan manusia di saat sekarang. Pernahkah kalian berpikir, jika suatu saat nanti kalian telah kembali menjadi abu, maka anak-anak ini adalah harapan yang mulia? Tolong dengar.
Di sini kami bersuara di atas papan luka. Pelajaran kami selama ini nampak ada gotong-royong. Adakah sumbangan kapur tulis untuk mencerminkan angan-angan bagi anak-anak ini?” ujar Wulan penuh antusias.
Tanpa ada sepata-kata jawaban dari para pembungkam suara, mereka pun kembali pulang tanpa pamit menggunakan mobil Rush, barangkali mobil mewah dari kelola uang asal-asalan.
Pemimpin tampak lengang dan bersikap dingin. Entahlah, mungkin tertawa terbahak-bahak dalam hatinya.
Sore dengan warna senja yang cantik mulai menghilang perlahan-lahan. Gelap malam menjadi tamu baru bagi Wulan dan anak-anak.
Senja terasa pamit membawa kekecewaan Wulan dan air mata anak-anak yang hanya berlinang di dalam bola mata.
Malam itu, desa gelap gulita, tapi lentera-lentera kecil menyala di rumah-rumah anyaman.
Anak-anak yang giat belajar bersama Wulan berkumpul diam-diam, membaca puisi teologi penciptaan—di mana Tuhan hadir dalam tanah basah hujan pertama?
Dalam tangan kecil yang saling genggam, membangun jembatan dari sawah terpencil ke dunia luas yang adil.
Hari berganti bulan, badai reda, dan tunas mulai hijau. Gotong royong melahirkan sekolah pertama dari kayu dan batu lokal.
***
Anak-anak tak lagi haus ilmu, tapi menjadi seperti sungai yang menyuburkan tumbuhan di sekitarnya.
Wulan, kini rambutnya dihiasi uban seperti kabut pagi, berdiri di puncak lereng yang berangsur-angsur cinta.
Dari atas puncak, Wulan menatap lembah yang dulu gersang, kini menjadi gemas bunga liar, memandang tawa anak muda.
Pendidikan telah menjelma gerakan abadi, akar yang tak mati meski angin kencang seperti puisi yang ditulis oleh tangan-tangan petani, dinyanyikan oleh angin pegunungan.
Di ujung senja, saat matahari tenggelam lambat di balik lautan, Wulan berbisik pada angin:
“Kita bukan pahlawan besar, tetapi hanya seperti benih yang jatuh ke tanah keras. Tapi lihatlah, dari satu akar, hutan tumbuh; dari satu kata, dunia bergeser”.
Di lereng-lereng gunung, di pinggir-pinggir jalan dan pedalaman, pendidikan dan gerakan sosial menyatu jadi puisi Tuhan.
Refleksi abadi bahwa keadilan lahir bukan dari pedang, tapi dari buku terbuka di tangan yang lemah. Dan puisi itu terus bernyanyi, selamanya, di setiap hembusan angin Flores Barat.
Di lereng Flores Barat yang kelabu, Wulan nyalakan obor pendidikan di tengah kabut kemiskinan.
Gotong-royong anak petani suling jadi puisi keadilan, benih revolusi dari tanah terjal. Satu api kecil ubah lembah gersang, jadi ladang harapan abadi.
“Ibu Wulan, terima kasih”, sorak anak-anak yang kini telah berhasil. (*)
*) Honoratus Kosminski Sale adalah Mahasiswa Semester II Prodi Filsafat IFTK Ledalero, Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur.
Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Ilustrasi-ibu-guru-ngajar.jpg)