Cerpen
Cerpen: Papan Luka
Sungai-sungai kecil mengalir pelan bagai doa yang tersendat, membisikkan rahasia leluhur kepada angin pegunungan.
Pagi kelabu menyelimuti lembah, kabut menari di puncak-puncak hijau. Wulan bangun lebih awal dari nyanyian ayam, membawa buku-buku lusuh ke bawah pohon beringin tua yang akarnya merangkul batu. Sekantong roti goreng ia bawakan untuk anak-anak yang akan ia layani.
Anak-anak desa datang berbondong-bondong: yang dari sawah bau lumpur, yang dari sungai bau ikan tawar, dan yang dari rumah bau harapan menyengat penciuman Wulan.
Mereka duduk melingkar di tanah merah, mata lapar bukan pada nasi, tapi pada kata-kata yang Wulan taburkan.
“Rumus hitung ini bukan sekedar angka, tapi jembatan untuk membelah batu ketidakadilan, seperti Rawls yang bicara tirai adil dari balik bukit."
"Kata-kata ini bukan kata-kata belaka, melainkan pendobrak kesunyian menuju kebangkitan masa depan”, katanya lembut bagai air irigasi pertama musim hujan.
Di kelas darurat itu, matematika bercampur cerita petani yang tanahnya dirampas, sejarah bergabung puisi tentang tangan Tuhan yang mencipta dari debu, menjadikan pendidikan benih revolusi yang syahdu.
Gerakan lahir pelan dari lumpur sawah: sesuap nasi demi ilmu yang menyala, berkobar, dan menjadi penting untuk masa depan.
Para petani dan tukang-tukang kayu bergotong-royong membela bambu, mengukirnya menjadi dinding, dan sedemikian rupa bambu dikerjakan menjelma papan luka demi kebahagiaan anak di masa depan. Tak ada kapur tulis, tak ada spidol tulis.
Yang Wulan gunakan betul-betul berasal dari sekumpulan arang. Lebih dari itu, suara Wulan lah yang melengking dalam kebijaksanaanya.
“Bangun sumur sekolah sederhana agar air pengetahuan tak pernah kering”, demikian kekuatan kata-kata yang disuguhkan Wulan di setiap jeda kelas darurat itu.
Anak-anak belajar membaca bukan huruf semata, tapi luka-luka tanah gersang, jalan rusak yang memisahkan desa dari dunia.
Senja di setiap sore bukan sekedar senja, melainkan warna yang setara dengan impian rakyat yang terkabulkan.
Mimpi petani yang tercekik utang musim paceklik, nyata di pinggir-pinggir jalan Flores Barat, apalagi di kampung-kampung pedalaman. Anak-anak masih terlalu banyak yang tidak menikmati pendidikan dengan bahagia.
Wulan, si cantik yang lebih dari kata dewasa, tekun mengajarkan mereka menulis surat ke kota jauh, meminta buku dan pensil, membangun jaring solidaritas dari lereng ke pantai, dari hati yang terdalam ke kedalaman hati, semoga antusias terlahir.
Siang hari, pelajaran beralih ke ladang: sambil tanam padi, bicara hak-hak buruh.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Ilustrasi-ibu-guru-ngajar.jpg)