Jumat, 5 Juni 2026

Cerpen

Cerpen: Papan Luka

Sungai-sungai kecil mengalir pelan bagai doa yang tersendat, membisikkan rahasia leluhur kepada angin pegunungan.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
FOTO ILUSTRASI BUATAN AI
ILUSTRASI 

Sambil berbicara tentang tenun kain, renungkan bagaimana pendidikan menyulam masa depan yang tak lagi compang-camping. 

Tapi musim kering panjang datang, bukan tanpa hujan, melainkan badai dari penguasa tanah yang haus kekuasaan. 

Giliran musim hujan datang, bukan tanpa terik, melainkan telinga yang sengaja ditutup rapat-rapat.

“Membungkam suara terlalu kentara untuk dilihat dan dicerna”, kata Wulan. Hari berganti hari, anak-anak semakin mencintai pendidikan. 

Begitu juga dengan waktu yang terus berputar, Wulan tidak pernah menego apa-apa kepada anak-anak yang ia layani. Yang Wulan tunjukkan sungguh berasal dari ketulusan hatinya.

***

Pada suatu hari di antara musim kering dan musim hujan, para pembungkam suara itu datang dengan inisiatif yang tidak diharapkan oleh Wulan, orang tua wali, bahkan oleh anak-anak yang sudah mulai mengerti apa itu suara yang dibungkam. 

Mereka datang dengan suara menggelegar: “Kalian boleh tanam padi, boleh tenun kain, tapi jangan tanam ide-ide liar!”, bentak mereka. 

Mendengar kata-kata bentakan itu, Wulan berdiri tegar di hadapan mereka, bibirnya terlihat seperti garis pedang tipis.

“Pendidikan adalah akar tak terlihat di bawah batu, yang merangkul tanah kering hingga mekar ladang subur. 

Gerakan sosial ini bukan api liar, tapi sungai yang mengikis tembok ketertinggalan pelan-pelan.”

Perdebatan terus berlangsung, Wulan tidak akan mau kalah, sebab yang ia impikan bukanlah perdebatan semata melainkan harapan pendidikan yang baik dan cerahnya masa depan anak-anak. 

Apa yang dimaksud dengan gerakan sosial jika ada suara yang dibungkam dan jika ada harapan yang ditekan dengan keji?

“Hai satu-satunya wanita yang ingin jadi pahlawan, belum saatnya kau bisa 
bersuara di hadapan kami, apalagi ada pimpinan di sini,” ujar salah seorang staf pembungkam suara. 

Mendengar perkataan itu, Wulan merasa kecewa. Hatinya seperti dilukai dengan mudah saja. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved