Jumat, 5 Juni 2026

Cerpen

Cerpen: Papan Luka

Sungai-sungai kecil mengalir pelan bagai doa yang tersendat, membisikkan rahasia leluhur kepada angin pegunungan.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
FOTO ILUSTRASI BUATAN AI
ILUSTRASI 

Oleh: Honoratus Kosminski Sale *

POS-KUPANG.COM - Ketika tanah retak menyimpan sunyi yang panjang, Wulan menanam huruf-huruf seperti benih harapan di dada anak-anak kampung. 

Di antara angin yang membawa bisik leluhur dan larangan yang menutup jalan, ia percaya, bahwa dari akar yang nyaris mati, kehidupan diam-diam belajar tumbuh.

Di lereng Flores Barat yang terjal dan berbatu, di mana matahari menyengat tanah kering seperti cambuk abadi, bersemayamlah sebuah sunyi yang panjang. 

Sungai-sungai kecil mengalir pelan bagai doa yang tersendat, membisikkan rahasia leluhur kepada angin pegunungan.

Kampung petani tersebar di antara sawah-ladang miring, rumah-rumah anyaman bambu berdiri rapuh, menyimpan cerita gotong royong yang ditenun dari keringat dan harapan yang tipis.

Baca juga: Cerpen: Pencuri Durian

Di sana, seorang wanita bernama Wulan lahir dari kandungan ibu yang penuh harapan cinta. 

Barangkali harapan cinta ibunya mengimpikan belaskasih dan keadilan, dan itu harus digemakan oleh Wulan. 

Setiap kali kicauan burung di pagi hari, tangan lembut Wulan bergegas menulis pendidikan sebab ia adalah pribadi yang peduli dengan hidup dan masa depannya juga hidup dan masa depan orang lain. 

Setiap udara segar di sore hari, tangan lembut Wulan bergerak bersama tofa rumput. Ia sadar bahwa alam punya cara untuk kebahagiaan di masa depan. 

Barangkali aktivitas itu adalah cara ia menjemput senja dengan kelelahan yang berharga. 

Selepas itu, baru ia selesaikan tenunan selendang kehidupan, pesanan mama kecilnya dari kampung sebelah.

Tak terasa, Wulan menenun harap hingga bulan menyapanya. Matanya terlihat hitam pekat menyimpan rasa asin lautan, hatinya seperti buku tua yang usang, seperti obor redup di malam gelap. 

Semua yang dilakukan serasa doa yang diujar dengan sabar sembari meyakinkan bahwa Tuhan akan menjawabnya.

***

Pagi kelabu menyelimuti lembah, kabut menari di puncak-puncak hijau. Wulan bangun lebih awal dari nyanyian ayam, membawa buku-buku lusuh ke bawah  pohon beringin tua yang akarnya merangkul batu. Sekantong roti goreng ia bawakan untuk anak-anak yang akan ia layani.

Anak-anak desa datang berbondong-bondong: yang dari sawah bau lumpur, yang dari sungai bau ikan tawar, dan yang dari rumah bau harapan menyengat penciuman Wulan. 

Mereka duduk melingkar di tanah merah, mata lapar bukan pada nasi, tapi pada kata-kata yang Wulan taburkan.

“Rumus hitung ini bukan sekedar angka, tapi jembatan untuk membelah batu ketidakadilan, seperti Rawls yang bicara tirai adil dari balik bukit." 

"Kata-kata ini bukan kata-kata belaka, melainkan pendobrak kesunyian menuju kebangkitan masa depan”, katanya lembut bagai air irigasi pertama musim hujan.

Di kelas darurat itu, matematika bercampur cerita petani yang tanahnya dirampas, sejarah bergabung puisi tentang tangan Tuhan yang mencipta dari debu, menjadikan pendidikan benih revolusi yang syahdu. 

Gerakan lahir pelan dari lumpur sawah: sesuap nasi demi ilmu yang menyala, berkobar, dan menjadi penting untuk masa depan. 

Para petani dan tukang-tukang kayu bergotong-royong membela bambu, mengukirnya menjadi dinding, dan sedemikian rupa bambu dikerjakan menjelma papan luka demi kebahagiaan anak di masa depan. Tak ada kapur tulis, tak ada spidol tulis. 

Yang Wulan gunakan betul-betul berasal dari sekumpulan arang. Lebih dari itu, suara Wulan lah yang melengking dalam kebijaksanaanya.  

“Bangun sumur sekolah sederhana agar air pengetahuan tak pernah kering”, demikian kekuatan kata-kata yang disuguhkan Wulan di setiap jeda kelas darurat itu.

Anak-anak belajar membaca bukan huruf semata, tapi luka-luka tanah gersang, jalan rusak yang memisahkan desa dari dunia. 

Senja di setiap sore bukan sekedar senja, melainkan warna yang setara dengan impian rakyat yang terkabulkan. 

Mimpi petani yang tercekik utang musim paceklik, nyata di pinggir-pinggir jalan Flores Barat, apalagi di kampung-kampung pedalaman. Anak-anak masih terlalu banyak yang tidak menikmati pendidikan dengan bahagia.

Wulan, si cantik yang lebih dari kata dewasa, tekun mengajarkan mereka menulis surat ke kota jauh, meminta buku dan pensil, membangun jaring solidaritas dari lereng ke pantai, dari hati yang terdalam ke kedalaman hati, semoga antusias terlahir. 

Siang hari, pelajaran beralih ke ladang: sambil tanam padi, bicara hak-hak buruh. 

Sambil berbicara tentang tenun kain, renungkan bagaimana pendidikan menyulam masa depan yang tak lagi compang-camping. 

Tapi musim kering panjang datang, bukan tanpa hujan, melainkan badai dari penguasa tanah yang haus kekuasaan. 

Giliran musim hujan datang, bukan tanpa terik, melainkan telinga yang sengaja ditutup rapat-rapat.

“Membungkam suara terlalu kentara untuk dilihat dan dicerna”, kata Wulan. Hari berganti hari, anak-anak semakin mencintai pendidikan. 

Begitu juga dengan waktu yang terus berputar, Wulan tidak pernah menego apa-apa kepada anak-anak yang ia layani. Yang Wulan tunjukkan sungguh berasal dari ketulusan hatinya.

***

Pada suatu hari di antara musim kering dan musim hujan, para pembungkam suara itu datang dengan inisiatif yang tidak diharapkan oleh Wulan, orang tua wali, bahkan oleh anak-anak yang sudah mulai mengerti apa itu suara yang dibungkam. 

Mereka datang dengan suara menggelegar: “Kalian boleh tanam padi, boleh tenun kain, tapi jangan tanam ide-ide liar!”, bentak mereka. 

Mendengar kata-kata bentakan itu, Wulan berdiri tegar di hadapan mereka, bibirnya terlihat seperti garis pedang tipis.

“Pendidikan adalah akar tak terlihat di bawah batu, yang merangkul tanah kering hingga mekar ladang subur. 

Gerakan sosial ini bukan api liar, tapi sungai yang mengikis tembok ketertinggalan pelan-pelan.”

Perdebatan terus berlangsung, Wulan tidak akan mau kalah, sebab yang ia impikan bukanlah perdebatan semata melainkan harapan pendidikan yang baik dan cerahnya masa depan anak-anak. 

Apa yang dimaksud dengan gerakan sosial jika ada suara yang dibungkam dan jika ada harapan yang ditekan dengan keji?

“Hai satu-satunya wanita yang ingin jadi pahlawan, belum saatnya kau bisa 
bersuara di hadapan kami, apalagi ada pimpinan di sini,” ujar salah seorang staf pembungkam suara. 

Mendengar perkataan itu, Wulan merasa kecewa. Hatinya seperti dilukai dengan mudah saja. 

“Kita semua adalah bagian dari bangsa ini. Apakah kami yang ada di desa dan di pelosok ini hanyalah patung yang siap ditebas dan dicaci maki? Lihatlah anak-anak ini. 

Masa depan yang cerah masih membutuhkan proses yang dilakukan manusia di saat sekarang. Pernahkah kalian berpikir, jika suatu saat nanti kalian telah kembali menjadi abu, maka anak-anak ini adalah harapan yang mulia? Tolong dengar. 

Di sini kami bersuara di atas papan luka. Pelajaran kami selama ini nampak ada gotong-royong. Adakah sumbangan kapur tulis untuk mencerminkan angan-angan bagi anak-anak ini?” ujar Wulan penuh antusias.

Tanpa ada sepata-kata jawaban dari para pembungkam suara, mereka pun kembali pulang tanpa pamit menggunakan mobil Rush, barangkali mobil mewah dari kelola uang asal-asalan. 

Pemimpin tampak lengang dan bersikap dingin. Entahlah, mungkin tertawa terbahak-bahak dalam hatinya.

Sore dengan warna senja yang cantik mulai menghilang perlahan-lahan. Gelap malam menjadi tamu baru bagi Wulan dan anak-anak. 

Senja terasa pamit membawa kekecewaan Wulan dan air mata anak-anak yang hanya berlinang di dalam bola mata.  

Malam itu, desa gelap gulita, tapi lentera-lentera kecil menyala di rumah-rumah anyaman.

Anak-anak yang giat belajar bersama Wulan berkumpul diam-diam, membaca puisi teologi penciptaan—di mana Tuhan hadir dalam tanah basah hujan pertama?

Dalam tangan kecil yang saling genggam, membangun jembatan dari sawah terpencil ke dunia luas yang adil. 

Hari berganti bulan, badai reda, dan tunas mulai hijau. Gotong royong melahirkan sekolah pertama dari kayu dan batu lokal.

***

Anak-anak tak lagi haus ilmu, tapi menjadi seperti sungai yang menyuburkan tumbuhan di sekitarnya.  

Wulan, kini rambutnya dihiasi uban seperti kabut pagi, berdiri di puncak lereng yang berangsur-angsur cinta. 

Dari atas puncak, Wulan menatap lembah yang dulu gersang, kini menjadi gemas bunga liar, memandang tawa anak muda. 

Pendidikan telah menjelma gerakan abadi, akar yang tak mati meski angin kencang seperti puisi yang ditulis oleh tangan-tangan petani, dinyanyikan oleh angin pegunungan.

Di ujung senja, saat matahari tenggelam lambat di balik lautan, Wulan berbisik pada angin:

“Kita bukan pahlawan besar, tetapi hanya seperti benih yang jatuh ke tanah  keras. Tapi lihatlah, dari satu akar, hutan tumbuh; dari satu kata, dunia bergeser”.

Di lereng-lereng gunung, di pinggir-pinggir jalan dan pedalaman, pendidikan dan gerakan sosial menyatu jadi puisi Tuhan.

Refleksi abadi bahwa keadilan lahir bukan dari pedang, tapi dari buku  terbuka di tangan yang lemah. Dan puisi itu terus bernyanyi, selamanya, di setiap hembusan angin Flores Barat

Di lereng Flores Barat yang kelabu, Wulan nyalakan obor pendidikan di tengah kabut kemiskinan. 

Gotong-royong anak petani suling jadi puisi keadilan, benih revolusi dari tanah terjal. Satu api kecil ubah lembah gersang, jadi ladang harapan abadi.

“Ibu Wulan, terima kasih”, sorak anak-anak yang kini telah berhasil. (*)

Honoratus Kosminski Sale
Honoratus Kosminski Sale (DOKUMENTASI PRIBADI HONORATUS K. SALE)

*) Honoratus Kosminski Sale adalah Mahasiswa Semester II Prodi Filsafat  IFTK Ledalero, Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur.
 
Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved