Opini
Opini: Generasi Cepat Bosan dan Matinya Kedalaman Berpikir
Menghidupkan kembali budaya membaca dan melatih konsentrasi mungkin terasa tidak menarik di tengah derasnya hiburan instan.
Akibatnya, seseorang semakin jarang berhadapan dengan perspektif yang berbeda. Ruang publik pun ikut berubah.
Perdebatan gagasan yang sehat sering kali kalah oleh pertukaran komentar yang emosional, saling menyerang dan kecenderungan untuk menghakimi sebelum memahami persoalan secara utuh.
Filsuf dan ahli budaya Byung-Chul Han dalam bukunya Infocracy: Digitalization and the Crisis of Democracy (2022) mengingatkan bahwa banjir informasi digital tidak otomatis menghasilkan masyarakat yang lebih cerdas atau lebih tercerahkan.
Ketika informasi lebih dihargai karena kemampuannya membangkitkan emosi daripada karena kebenarannya, yang berkembang bukan kebijaksanaan, melainkan kemarahan.
Tidak mengherankan jika masyarakat menjadi semakin mudah tersulut oleh informasi yang belum terverifikasi.
Kita sering kali bereaksi lebih cepat daripada memahami, padahal pemahaman memerlukan waktu, perhatian dan kesabaran.
Melawan Arus Kedangkalan
Menyelamatkan generasi dari kedangkalan berpikir bukanlah tugas yang mudah. Kita sedang berhadapan dengan industri teknologi global yang menginvestasikan sumber daya besar untuk merancang aplikasi yang mampu mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin.
Namun, tantangan yang besar tidak boleh menjadi alasan untuk menyerah.
Lembaga pendidikan perlu berani mengubah orientasi pembelajaran.
Sekolah tidak cukup hanya mengajarkan siswa untuk mengumpulkan informasi yang dengan mudah dapat ditemukan melalui mesin pencari.
Pendidikan harus lebih berfokus pada pengembangan kemampuan berpikir kritis, penalaran logis dan literasi informasi.
Siswa perlu dilatih untuk mempertanyakan sumber informasi, mengenali bias, membedakan fakta dari opini, serta membaca dan memahami teks secara mendalam.
Kemampuan seperti ini tidak tumbuh dari video berdurasi satu menit, tetapi dari kebiasaan membaca dan berpikir yang dilakukan secara konsisten.
Di tingkat keluarga, orang tua perlu lebih berani menciptakan waktu bebas layar di rumah. Bukan berarti menolak teknologi, melainkan membangun keseimbangan yang sehat antara dunia digital dan kehidupan nyata.
Membacakan buku kepada anak, mengajak mereka berdiskusi di meja makan atau menyediakan waktu untuk berbincang tanpa gangguan gawai merupakan langkah sederhana yang memiliki dampak besar bagi perkembangan kemampuan berpikir anak.
Perubahan juga dapat dimulai dari diri sendiri. Kita bisa melatih kembali kemampuan berkonsentrasi yang perlahan terkikis oleh kebiasaan digital.
Febrianto Damasius Ginting
Opini Pos Kupang
Universitas Sanata Dharma Yogyakarta
cepat bosan
Era Banjir Informasi
Meaningful
| Opini: Menjaga Stabilitas Pasar NTT di Tengah Badai Pelemahan Rupiah |
|
|---|
| Opini: Dua Tiang Sakral Perkawinan Tetun |
|
|---|
| Opini: Rutin MeNaRi, Gerakan Sederhana untuk Mendeteksi Korsleting Jantung |
|
|---|
| Opini: Subuh, Altar, dan Rahasia Kehidupan Seminari |
|
|---|
| Opini: Menanamkan yang Tepat- Pendidikan Sejati Menurut Kacamata Parmenides |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Ilustrasi-main-ponsel.jpg)