Breaking News
Jumat, 12 Juni 2026

Opini

Opini: Generasi Cepat Bosan dan Matinya Kedalaman Berpikir

Menghidupkan kembali budaya membaca dan melatih konsentrasi mungkin terasa tidak menarik di tengah derasnya hiburan instan.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
FOTO ILUSTRASI BUATAN AI
ILUSTRASI 

Akibatnya, seseorang semakin jarang berhadapan dengan perspektif yang berbeda. Ruang publik pun ikut berubah. 

Perdebatan gagasan yang sehat sering kali kalah oleh pertukaran komentar yang emosional, saling menyerang dan kecenderungan untuk menghakimi sebelum memahami persoalan secara utuh.

Filsuf dan ahli budaya Byung-Chul Han dalam bukunya Infocracy: Digitalization and the Crisis of Democracy (2022) mengingatkan bahwa banjir informasi digital tidak otomatis menghasilkan masyarakat yang lebih cerdas atau lebih tercerahkan. 

Ketika informasi lebih dihargai karena kemampuannya membangkitkan emosi daripada karena kebenarannya, yang berkembang bukan kebijaksanaan, melainkan kemarahan. 

Tidak mengherankan jika masyarakat menjadi semakin mudah tersulut oleh informasi yang belum terverifikasi. 

Kita sering kali bereaksi lebih cepat daripada memahami, padahal pemahaman memerlukan waktu, perhatian dan kesabaran.

Melawan Arus Kedangkalan

Menyelamatkan generasi dari kedangkalan berpikir bukanlah tugas yang mudah. Kita sedang berhadapan dengan industri teknologi global yang menginvestasikan sumber daya besar untuk merancang aplikasi yang mampu mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin. 

Namun, tantangan yang besar tidak boleh menjadi alasan untuk menyerah.
Lembaga pendidikan perlu berani mengubah orientasi pembelajaran. 

Sekolah tidak cukup hanya mengajarkan siswa untuk mengumpulkan informasi yang dengan mudah dapat ditemukan melalui mesin pencari. 

Pendidikan harus lebih berfokus pada pengembangan kemampuan berpikir kritis, penalaran logis dan literasi informasi. 

Siswa perlu dilatih untuk mempertanyakan sumber informasi, mengenali bias, membedakan fakta dari opini, serta membaca dan memahami teks secara mendalam. 

Kemampuan seperti ini tidak tumbuh dari video berdurasi satu menit, tetapi dari kebiasaan membaca dan berpikir yang dilakukan secara konsisten.

Di tingkat keluarga, orang tua perlu lebih berani menciptakan waktu bebas layar di rumah. Bukan berarti menolak teknologi, melainkan membangun keseimbangan yang sehat antara dunia digital dan kehidupan nyata. 

Membacakan buku kepada anak, mengajak mereka berdiskusi di meja makan atau menyediakan waktu untuk berbincang tanpa gangguan gawai merupakan langkah sederhana yang memiliki dampak besar bagi perkembangan kemampuan berpikir anak.

Perubahan juga dapat dimulai dari diri sendiri. Kita bisa melatih kembali kemampuan berkonsentrasi yang perlahan terkikis oleh kebiasaan digital. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 02:00 WIB
Mexico
Meksiko
2 - 0
South Africa
Afrika Selatan
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 09:00 WIB
South Korea
Korea Selatan
2 - 1
Czechia
Ceko
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved