Kamis, 11 Juni 2026

Opini

Opini - Siapa Saja yang Kena Dampak Atas Kenaikan BBM?

Kenaikan BBM tersebut sudah yang keempat kali dalam kurung waktu satu tahun 2026 ini. Walaupun hanya untuk BBM non subsidi.

Tayang:
Editor: Alfons Nedabang
POS-KUPANG.COM/HO
Dr. MAKB Hallan, Pakar Keuangan Negara dan Daerah dari Undana. 

Opini - Siapa Saja yang Kena Dampak Atas Kenaikan BBM?

Oleh Dr. MAKB Hallan
Pakar Keuangan Negara dan Daerah Undana

POS-KUPANG.COM - Menarik untuk dikaji atas kenaikan BBM per 10 Juni 2026. Kenaikan BBM tersebut sudah yang keempat kali dalam kurung waktu satu tahun 2026 ini. Walaupun hanya untuk BBM non subsidi.

Kenaikan yang pertama pada 1 Maret 2026 hanya untuk Pertamax. Kedua pada tanggal 18 April 2026 untuk BBM non subsidi hanya untuk tiga jenis yaitu: Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex.

Ketiga terjadi pada tanggal 4 Mei 2026 untuk BBM non subsidi yaitu: Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex, dan penyesuaian harga ini yang kedua untuk ketiga jenis BBM yang sama setelah kenaikan pada tanggal 18 April 2026.

Keempat pada tanggal 10 Juni 2026 yaitu BBM jenis non subsidi Pertamax (RON 92) dan Pertamax Green 95. Hal yang menarik untuk jenis Pertamax Green 95 untuk wilayah NTT sedikit di bawah secara nasional, karena dihitung berdasarkan biaya distribusi.

Analisis ini tidak hanya sampai pada kenaikan BBM non subsidi kepada kehidupan masyarakat NTT, namun perlu diketahui pemicu kenaikan BBM non subsidi ini.

Pergerakan Rupiah yang terus melemah terhadap mata uang kuat di dunia seperti Dollar Amerika Serikat, Euro dan Pound Sterling Inggris, dan ini sebagai salah satu pemicu kuat terhadap kenaikan BBM.

Selain kenaikan BBM non subsidi juga dipengaruhi oleh penutupan selat Hormuz oleh Iran. Di satu sisi, kapasitas tempat penyulingan minyak mentah di Indonesia yang belum mampu menampung produksi minyak mentah dalam negeri.

Sehingga minyak mentah harus diekspor ke negara-negara lain yang memiliki kemampuan kapasitas penyulingan minyak yang besar.

Selanjutnya negara kita kembali mengimpor minyak yang tekah disuling dari negara-negara pengimpor minyak mentah kita. Selain itu, komsumsi BBM dalam negeri begitu besar, dan produksi minyak mentah kita tidak sebanyak pada era tahun 1990an.

Oleh karena itu, Pertamina harus mengimpor minyak dari negara-negara lain untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, dengan sistem pembayaran dalam bentuk mata uang asing.

Dengan kenaikan harga BBM non subsidi ini, siapa-siapa saja yang kena dampaknya. Jawabannya adalah hampir semua kita, sekalipun kenaikan BBM non subsidi.

Walaupun ada sebagian kecil masyarakat NTT yang tidak merasakan dampak dari kenaikan BBM non subsidi ini. Ada beberapa hal menjadi pengamatan kami selama ini seperti pengangkutan barang dan jasa dari Pulau Jawa ke wilayah NTT harus menggunakan BBM non subsidi.

Artinya perusahaan pengangkutan darat dan laut menaikkan tarif angkut barang dan jasa untuk menyesuaikan dengan kenaikan harga BBM non subsidi ini. Sehingga secara otomatis harga barang-barang juga mengalami kenaikan.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved