Opini
Opini: Generasi Cepat Bosan dan Matinya Kedalaman Berpikir
Menghidupkan kembali budaya membaca dan melatih konsentrasi mungkin terasa tidak menarik di tengah derasnya hiburan instan.
Kita semakin mudah merasa memahami suatu persoalan hanya karena telah menonton ringkasan singkat di media sosial.
Berbagai isu yang kompleks, mulai dari konflik internasional hingga kebijakan publik, sering kali dipahami melalui potongan-potongan informasi yang minim konteks dan penjelasan.
Kita merasa sudah mengetahui suatu masalah, padahal yang kita terima sering kali hanyalah kesimpulan yang disusun oleh orang lain.
Beberapa data nasional memperkuat kekhawatiran ini. Survei Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) tahun 2025 menunjukkan bahwa indeks kegemaran membaca masyarakat Indonesia berada pada angka 54,80 atau masih dalam kategori sedang.
Di sisi lain, data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 menunjukkan bahwa hanya sekitar 17,21 persen anak usia dini yang pernah dibacakan buku cerita atau dongeng oleh orang tua mereka.
Sementara itu, hanya sekitar 11,12 persen anak yang belajar atau membaca buku bersama orang tua.
Data tersebut menunjukkan bahwa budaya membaca belum sepenuhnya menjadi bagian kuat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.
Namun, persoalan terbesar bukan semata-mata terletak pada rendahnya kebiasaan membaca.
Persoalan yang lebih mendasar adalah semakin berkurangnya kemauan untuk membaca teks yang panjang, kompleks dan menuntut konsentrasi.
Kita lebih menyukai kesimpulan instan daripada proses memahami. Tanpa disadari, kita sedang membiasakan diri menjadi konsumen pemikiran orang lain, bukan penghasil pemikiran yang mandiri.
Matinya Nuansa dan Lahirnya Sumbu Pendek
Dampak dari kebiasaan berpikir dangkal ini semakin terlihat dalam ruang diskusi publik.
Ketika kita terbiasa menerima informasi secara singkat dan serba instan, kemampuan untuk memahami persoalan secara utuh pun perlahan melemah.
Banyak isu yang sebenarnya kompleks akhirnya dipandang secara sederhana. Orang cenderung terburu-buru mengambil kesimpulan tanpa memahami konteks, penyebab, maupun berbagai sudut pandang yang ada.
Akibatnya, ruang diskusi semakin dipenuhi penilaian yang cepat, sementara sikap kritis dan kehati-hatian dalam memahami persoalan semakin berkurang.
Media sosial dengan algoritma echo chamber-nya memperparah keadaan. Alih-alih mempertemukan pengguna dengan beragam pandangan, algoritma justru lebih sering menyajikan informasi yang sejalan dengan keyakinan yang sudah dimiliki.
Febrianto Damasius Ginting
Opini Pos Kupang
Universitas Sanata Dharma Yogyakarta
cepat bosan
Era Banjir Informasi
Meaningful
| Opini: Menjaga Stabilitas Pasar NTT di Tengah Badai Pelemahan Rupiah |
|
|---|
| Opini: Dua Tiang Sakral Perkawinan Tetun |
|
|---|
| Opini: Rutin MeNaRi, Gerakan Sederhana untuk Mendeteksi Korsleting Jantung |
|
|---|
| Opini: Subuh, Altar, dan Rahasia Kehidupan Seminari |
|
|---|
| Opini: Menanamkan yang Tepat- Pendidikan Sejati Menurut Kacamata Parmenides |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Ilustrasi-main-ponsel.jpg)