Opini
Opini: Subuh, Altar, dan Rahasia Kehidupan Seminari
Di seminari yang dikejar bukanlah piala prestasi, melainkan piala Ekaristi. Yang dicari bukanlah seragam dinas, melainkan busana rohani.
Mengenang Dua Tahun Penuh Makna di Seminari Mataloko Ngada, NTT
Oleh: Fr. Tevin Lory
Frater Projo Keuskupan Agung Ende yang baru usai jalani Tahun Orientasi Pastoral di Seminari Mataloko.
POS-KUPANG.COM - Dua tahun bukanlah waktu yang singkat. Namun di Seminari Mataloko, waktu seolah mengalir dalam ritmenya sendiri. Ia menuntun saya memasuki sebuah ziarah intelektual dan spiritual yang kaya.
Sebagai seorang Frater yang menjalani masa Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di sini selama dua tahun terakhir, saya beruntung dapat menyaksikan, menghayati, dan mengagumi bagaimana lembaga ini membentuk manusia.
Berada di sini membuat saya menyadari bahwa Seminari Mataloko bukan sekadar sebuah sekolah atau tempat pembinaan calon imam. Ia adalah sebuah ruang alternatif yang menantang arus zaman.
Di tengah dunia yang bergerak begitu cepat, bising, dan dangkal, Mataloko menawarkan sebuah oase yang kontras.
Baca juga: Seminari Mataloko dan Seminari Oepoi Gelar Fun Football, Pererat Persaudaraan Lintas Pulau
Lewat tulisan ini, saya ingin membagikan kisah dan permenungan tentang bagaimana kehidupan di lembah sunyi ini menuntun saya menemukan kembali jati diri yang jujur, menghayati waktu yang kudus, meruntuhkan sekat dalam mendidik, hingga mengecap arti dari sebuah kesuksesan sejati.
Saya mulai peziarahan batin ini dari subuh yang syahdu, saat ritme tubuh perlahan melebur dengan ritme ilahi.
Subuh: Antara Ritme Biologis dan Ritme Ilahi
Setiap hari di Mataloko dimulai pukul 04.30 subuh, yang langsung bermuara pada Perayaan Ekaristi. Pola hidup ini membalikkan konsep waktu sekuler.
Menurut filsuf waktu, Henri Bergson, waktu bukan sekadar durasi matematis yang mekanis, melainkan durasi batiniah yang dihayati (Bergson, Time and Free Will, 1910).
Dengan menempatkan Ekaristi pada fajar hari, seminari sedang melakukan sakralisasi waktu. Kehidupan tidak dimulai dengan kecemasan akan urusan duniawi, tetapi dengan penyerahan diri kepada Yang Ilahi.
Ekaristi menjadi pusat gravitasi eksistensial. Para seminaris dilatih untuk menyelaraskan ritme biologis mereka dengan ritme ilahi (ritus liturgis).
Jam tubuh tunduk pada jam rahmat. Sebelum tubuh bekerja, jiwa terlebih dahulu berlutut. Sebelum mereka berbicara kepada dunia, mereka lebih dahulu mendengarkan suara Tuhan. Dari altar itulah seluruh aktivitas memperoleh arah dan makna.
Mereka belajar bahwa panggilan imam bukan pertama-tama soal kemampuan intelektual atau keterampilan pastoral, melainkan kemampuan menghadirkan Tuhan sebagai pusat hidup.
Imam yang sejati bukanlah orang yang sibuk berbicara tentang Allah, melainkan orang yang terlebih dahulu hidup di dalam waktu Allah.
Subuh di Mataloko mengajarkan bahwa hidup manusia tidak diukur pertama-tama dari seberapa banyak yang dikerjakan, tetapi dari kepada siapa hidup itu dipersembahkan.
Askese Digital: Jalan Memutar Menuju Kedalaman Berpikir
Tevin Lory
Siswa Seminari Mataloko
SMA Seminari Mataloko
Seminari Mataloko
Meaningful
Tahun Orientasi Pastoral
Keuskupan Agung Ende
| Opini: Menanamkan yang Tepat- Pendidikan Sejati Menurut Kacamata Parmenides |
|
|---|
| Opini: Kaum Marginal Terlalu Nyata untuk Diabaikan |
|
|---|
| Opini: Sudah Menyambut Tubuh Kristus, Tetapi Sudahkah Menjadi Tubuh Kristus? |
|
|---|
| Opini: Sapere Aude di Tapal Batas |
|
|---|
| Opini: Membumikan Ensiklik Magnifica Humanitas di Tengah Badai Penipuan AI di NTT |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Tevin-Lory.jpg)