Opini
Opini: Dua Tiang Sakral Perkawinan Tetun
Menjadi orang Tetun berarti merawat dualisme yang sublim: 100 persen Katolik dan 100 persen berpegang pada adat.
Antara Beban Barlake dan Kesucian Sakramen
Oleh: Manuel Soares
Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, Nusa Tenggara Timur.
Email: nuelsoares071@gmail.com
POS-KUPANG.COM - Bagi masyarakat suku Tetun, baik yang merajut hidup di hamparan Timor Barat, Nusa Tenggara Timur ( NTT) maupun di bumi Timor Leste, identitas diri bukanlah sebuah pilihan hitam putih.
Menjadi orang Tetun berarti merawat dualisme yang sublim: 100 persen Katolik dan 100 persen berpegang pada adat.
Dua identitas ini bukan dua kubu yang saling bertarung, melainkan tiang kembar yang menopang atap kehidupan sosial dan spiritual mereka.
Baca juga: Opini: Subuh, Altar, dan Rahasia Kehidupan Seminari
Dalam sosiologi, ini disebut sebagai inkulturasi atau sinkretisme positif, di mana hukum gereja dan hukum adat berjalan beriringan.
Namun, dalam institusi perkawinan, dialektika ini kerap kali menghadirkan catatan kritis yang harus kita bedah bersama.
Berikut adalah poin-poin krusial dalam dinamika perkawinan budaya Tetun dalam teropong iman Katolik.
Perkawinan sebagai Sakramen vs Perkawinan sebagai Ikatan Kosmis/Adat
Dalam teologi Gereja Katolik, perkawinan bukan sekadar kontrak sosial, melainkan sebuah Sakramen tanda kehadiran Allah yang kudus, bersifat monogami (satu suami, satu istri), dan tidak dapat diceraikan oleh manusia (indissolubilitas).
Sementara dalam kosmologi adat Tetun, perkawinan adalah peristiwa kosmis yang sakral, sebuah jembatan yang menyatukan dua klan besar: Ume Mane ( pihak pemberi wanita) dan Feto San ( pihak penerima wanita).
Masyarakat Tetun berhasil menyatukan dua konsep kesakralan ini dengan luar biasa.
Bagi orang Tetun, sebuah pernikahan dirasa belum sah secara total jika baru selesai di altar gereja tetapi belum tuntas di dalam rumah adat, atau sebaliknya.
Keduanya saling melengkapi untuk melegitimasi status sosial sekaligus status spiritual pasangan tersebut di mata Tuhan dan leluhur.
Titik Temu Nilai: Monogami dan Kesetiaan
Gereja Katolik sangat tegas tentang monogami dan keutuhan keluarga.
Manuel Soares
Bahasa Tetun
Tetun
Timor Barat
Timor Leste
barlake
mas kawin
Meaningful
NTT
Nusa Tenggara Timur
| Opini: Rutin MeNaRi, Gerakan Sederhana untuk Mendeteksi Korsleting Jantung |
|
|---|
| Opini: Subuh, Altar, dan Rahasia Kehidupan Seminari |
|
|---|
| Opini: Menanamkan yang Tepat- Pendidikan Sejati Menurut Kacamata Parmenides |
|
|---|
| Opini: Kaum Marginal Terlalu Nyata untuk Diabaikan |
|
|---|
| Opini: Sudah Menyambut Tubuh Kristus, Tetapi Sudahkah Menjadi Tubuh Kristus? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Manuel-Soares.jpg)