Sabtu, 13 Juni 2026

Opini

Opini: Generasi Cepat Bosan dan Matinya Kedalaman Berpikir

Menghidupkan kembali budaya membaca dan melatih konsentrasi mungkin terasa tidak menarik di tengah derasnya hiburan instan.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
FOTO ILUSTRASI BUATAN AI
ILUSTRASI 

Oleh: Febrianto Damasius Ginting
Mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

POS-KUPANG.COM - Cobalah memperhatikan perilaku kita sendiri atau orang-orang di sekitar saat sedang menggenggam gawai. 

Berapa lama kita bertahan membaca satu paragraf penuh sebelum jempol tanpa sadar menggulir layar ke bawah? 

Atau berapa lama kita sanggup menonton sebuah video sebelum merasa bosan ketika dalam beberapa detik pertama tidak ada gambar yang mencolok atau musik yang menarik perhatian? 

Tanpa disadari, kita sedang hidup dalam budaya yang membuat daya tahan perhatian semakin pendek. Kita sedang menjadi generasi yang cepat bosan.

Fenomena video pendek berdurasi 15 hingga 60 detik di platform seperti TikTok, Instagram Reels dan YouTube Shorts telah mengubah bukan hanya cara kita mencari hiburan, tetapi juga cara kita menerima dan mengolah informasi. 

Baca juga: Opini: Rutin MeNaRi, Gerakan Sederhana untuk Mendeteksi Korsleting Jantung

Kita sedang mengalami pergeseran budaya, dari budaya membaca yang menuntut konsentrasi dan kesabaran menuju budaya visual yang serba cepat dan instan. 

Setiap kali menemukan sesuatu yang baru dan menarik, otak memperoleh sensasi kepuasan yang mendorong kita untuk terus mencari rangsangan berikutnya. 

Akibatnya, kita terus menggulir layar, berpindah dari satu konten ke konten lain, tanpa pernah benar-benar berhenti untuk merenung. 

Dalam jangka panjang, kebiasaan ini berisiko melemahkan kemampuan kita untuk berpikir secara runtut, kritis dan mendalam.

Banjir Informasi, Kekeringan Makna

Masyarakat digital saat ini merupakan masyarakat yang paling banyak mengonsumsi informasi sepanjang sejarah peradaban manusia. 

Namun, melimpahnya informasi tidak selalu diikuti oleh meningkatnya pemahaman. 

Nicholas Carr dalam bukunya The Shallows: What the Internet Is Doing to Our Brains (2010) menjelaskan bahwa internet secara perlahan membentuk kebiasaan membaca yang cepat, terfragmentasi dan melompat dari satu informasi ke informasi lainnya. 

Otak dilatih menjadi pemindai informasi yang efisien, tetapi pada saat yang sama kehilangan kemampuan untuk berkonsentrasi dalam waktu lama dan merenungkan suatu persoalan secara mendalam.

Dampaknya terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang membaca judul berita tanpa menuntaskan isi beritanya. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 02:00 WIB
Canada
Kanada
1 - 1
Bosnia
Bosnia
Grup D - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 08:00 WIB
United States
Amerika Serikat
4 - 1
Paraguay
Paraguay
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved