Breaking News
Senin, 8 Juni 2026

Opini

Opini: Rutin MeNaRi, Gerakan Sederhana untuk Mendeteksi Korsleting Jantung

Jangan abaikan detak jantung yang berdebar tidak biasa. Rutin MeNaRi, gerakan sederhana yang dapat menyelamatkan nyawa.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI FLORENSIANA O. PUTRI MANAFE
dr. Florensiana O. Putri Manafe 

Oleh: dr. Florensiana O. Putri Manafe
Anggota Program Pengembangan Edukasi dan Informasi Yayasan Jantung Indonesia Cabang NTT.

POS-KUPANG.COM - Pernahkah dalam kehidupan sehari-hari Anda merasakan ada yang berbeda dengan denyut jantung Anda? Mungkin berdetak lebih cepat atau lebih lambat dari biasanya? 

Atau mungkin berdetak secara tidak teratur? Atau Anda pernah merasakan tiba-tiba pusing bahkan sampai pingsan? 

Jika Anda pernah mengalami salah satu dari gejala di atas, Anda harus segera berkonsultasi dengan dokter. 

Satu pertanyaan yang mungkin terbersit di dalam benak Anda, yaitu apakah gejala-gejala di atas berbahaya bagi kesehatan Anda? 

Dalam artikel ini, penulis akan mengulas tentang salah satu kelainan jantung yang tampaknya kurang populer di masyarakat jika dibandingkan dengan Penyakit Jantung Koroner, namun efeknya bisa berbahaya bagi kesehatan Anda di masa yang akan datang. Kelainan tersebut adalah aritmia.

Baca juga: Gejala Penyakit Jantung Coroner, Kenali Tanda-tanda pada Tubuh, Waspada Angina Pectoris

Menurut American Heart Asscociaton, aritmia adalah gangguan apa pun pada kecepatan atau ritme detak jantung

Kondisi ini terjadi ketika impuls listrik yang mengoordinasikan detak jantung tidak berfungsi dengan baik, sehingga menyebabkan jantung berdetak terlalu cepat, terlalu lambat, atau tidak teratur, dalam bahasa awamnya adalah korsleting listrik pada jantung

Dalam keadaan normal, jantung orang dewasa berdetak sekitar 60–100 kali per menit saat istirahat. 

Bila irama jantung terganggu, kemampuan jantung memompa darah ke seluruh tubuh dapat menurun. Hal inilah yang dapat menjelaskan mengapa orang dengan aritmia, bisa saja merasakan pusing bahkan sampai pingsan, karena suplai oksigen tidak sampai ke organ tubuh vital. 

Aritmia dapat terjadi pada siapa saja, baik usia muda maupun lanjut usia. Sebagian aritmia tidak berbahaya, tetapi beberapa jenis dapat meningkatkan risiko stroke, gagal jantung, bahkan kematian mendadak jika tidak ditangani dengan baik. 

Kejadian aritmia secara umum diperkirakan sekitar 1,5 sampai 5 persen pada populasi global. Aritmia yang paling sering terjadi adalah atrial fibrilasi, dengan prevalensi global mencapai 46,3 juta kasus. 

Sedangkan aritmia yang paling mematikan adalah ventrikel takikardi atau ventrikel fibrilasi dimana penanganannya adalah dengan melakukan kejut listrik.

Secara umum, jantung dibagi menjadi empat ruangan, yaitu dua serambi kiri dan kanan, serta dua bilik kiri dan kanan, yang dipisahkan oleh empat katup yang bekerja secara harmonis untuk memompa dan mengalirkan darah dari jantung ke seluruh tubuh. 

Serambi kanan berfungsi menerima darah kotor (miskin oksigen) dari seluruh tubuh dan mengalirkannya ke bilik kanan. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved