Jumat, 12 Juni 2026

Opini

Opini - Teologi Minjung dan Kebangkitan Masyarakat Pedesaan

Masyarakat pedesaan kerap ditempatkan pada posisi yang terpinggirkan dalam arus pembangunan nasional.

Tayang:
Editor: Alfons Nedabang
POS-KUPANG.COM/HO
Silverius Bria, mahasiswa Fakultas Filsawat Unwira Kupang. 

Opini - Teologi Minjung dan Kebangkitan Masyarakat Pedesaan

Oleh: Fr. Silverius Bria 
Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang, Tinggal di Seminari Interdiosesan St. Micael Kupang

POS-KUPANG.COM - Kemajuan suatu bangsa sering kali diukur dari pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, dan perkembangan teknologi.

Namun, di balik berbagai pencapaian tersebut, masih terdapat kelompok masyarakat yang belum sepenuhnya merasakan manfaat pembangunan, terutama mereka yang hidup di wilayah pedesaan.

Kemiskinan, keterbatasan akses pendidikan, minimnya lapangan pekerjaan, serta kurangnya perhatian terhadap kebutuhan masyarakat desa menjadi kenyataan yang masih dihadapi hingga saat ini.

Akibatnya, masyarakat pedesaan kerap ditempatkan pada posisi yang terpinggirkan dalam arus pembangunan nasional.

Ironisnya, masyarakat pedesaan justru memiliki peran penting dalam menopang kehidupan bangsa. Mereka adalah petani yang menghasilkan bahan pangan, nelayan yang menyediakan sumber protein bagi masyarakat, serta peternak yang mendukung kebutuhan konsumsi sehari-hari.

Namun, kontribusi besar tersebut sering kali tidak sebanding dengan kesejahteraan yang mereka terima. Tidak sedikit warga desa yang tetap hidup dalam keterbatasan meskipun bekerja keras setiap hari.

Situasi ini menunjukkan bahwa persoalan kemiskinan bukan sekadar masalah individu, melainkan persoalan struktural yang membutuhkan perhatian bersama.

Selain menghadapi tantangan ekonomi, masyarakat pedesaan juga sering dibebani stigma sosial. Mereka dianggap kurang maju, tertinggal, bahkan tidak memiliki kemampuan untuk bersaing dengan masyarakat perkotaan.

Pandangan semacam ini dapat melukai harga diri dan memengaruhi cara mereka memandang masa depan. Ketika seseorang terus-menerus ditempatkan sebagai kelompok yang lemah, lambat laun ia dapat kehilangan keyakinan bahwa perubahan adalah sesuatu yang mungkin diwujudkan.

Oleh karena itu, pemberdayaan masyarakat tidak hanya menyentuh aspek ekonomi, tetapi juga harus menyentuh kesadaran akan martabat dan nilai kemanusiaan.

Dalam konteks inilah Teologi Minjung menawarkan refleksi yang penting. Teologi yang berkembang di Korea Selatan pada dekade 1970-an ini lahir dari pergumulan rakyat kecil yang mengalami ketidakadilan sosial, politik, dan ekonomi.

Kata minjung berarti rakyat atau massa yang tertindas. Teologi ini menegaskan bahwa Allah tidak tinggal diam terhadap penderitaan manusia. Sebaliknya, Allah hadir dan berpihak kepada mereka yang tertindas, miskin, dan tersingkir dari kehidupan sosial.

Pesan utama Teologi Minjung sangat relevan bagi masyarakat pedesaan. Kemiskinan tidak boleh dipahami sebagai takdir yang harus diterima tanpa usaha untuk mengubahnya.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved