Selasa, 9 Juni 2026

Opini

Opini: Menjaga Stabilitas Pasar NTT di Tengah Badai Pelemahan Rupiah

Harga cabai rawit, cabai merah, ikan tembang, hingga bahan pangan pokok lainnya perlahan merambat naik. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI BERNABAS HAKI
Bernabas Haki 

Oleh: Bernabas Haki
Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, NTT 

POS-KUPANG.COM - Lantai Pasar Kasih Naikoten di Kota Kupang pagi ini terasa lebih dingin, bukan karena cuaca, melainkan karena keheningan yang perlahan merayap di antara lapak-lapak pedagang. 

Di sudut pasar, seorang ibu paruh baya memandangi karung-karung berisi kebutuhan pokok dengan tatapan cemas. 

Riuh rendah tawar-menawar yang biasanya memekakkan telinga, kini berganti menjadi keluhan berbisik. 

Baca juga: Opini: Dua Tiang Sakral Perkawinan Tetun

Badai ekonomi global yang menerpa Jakarta, nyatanya telah berlayar melintasi lautan dan berlabuh di tanah Flobamora. 

Rupiah sedang melemah, dan getarannya sangat terasa hingga ke dapur-dapur masyarakat Nusa Tenggara Timur ( NTT).

Secara nasional, nilai tukar rupiah sempat mengalami tekanan hebat hingga menyentuh angka psikologis yang mengkhawatirkan di kisaran Rp 17.600 hingga Rp 18.000 per dolar AS. 

Pelemahan ini bukan sekadar deretan angka di layar televisi atau aplikasi saham. 

Bagi NTT, provinsi kepulauan yang sebagian besar barang kebutuhannya dipasok dari luar daerah (seperti Jawa dan Sulawesi), pelemahan mata uang ini adalah hulu dari gelombang kenaikan harga barang bawaan.

Dampaknya langsung terasa pada inflasi domestik. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) NTT, inflasi tahunan (year-on-year) provinsi ini merangkak naik menyentuh angka 2,76 persen pada Mei 2026. 

Angka ini dipicu oleh kenaikan harga pada kelompok pengeluaran yang paling sensitif bagi masyarakat bawah: makanan, minuman, tembakau, serta transportasi. 

Biaya logistik dan harga bahan bakar rumah tangga yang ikut terkerek naik seolah mengunci ruang gerak para pedagang kecil di pasar-pasar tradisional, mulai dari Pasar Alok di Maumere hingga pasar-pasar di wilayah Timor Tengah Selatan.

Ketika ongkos angkut barang menggunakan kapal laut dan pesawat meningkat akibat inflasi transportasi, harga komoditas impor maupun lokal yang rantai pasoknya bergantung pada komponen luar daerah otomatis melonjak. 

Harga cabai rawit, cabai merah, ikan tembang, hingga bahan pangan pokok lainnya perlahan merambat naik. 

Bagi masyarakat NTT, situasi ini bagaikan buah simalakama; pendapatan tidak bertambah, namun daya beli terus digerus oleh harga barang yang kian mencekik. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved