Opini
Opini - NTT dan Tantangan Kesepian di Tengah Budaya Komunal
Nusa Tenggara Timur (NTT) sering dipahami sebagai wilayah yang masih mempertahankan budaya komunal yang kuat.
Opini - NTT dan Tantangan Kesepian di Tengah Budaya Komunal
Oleh: Patrisius Marcelino Kaha
Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang
POS-KUPANG.COM - Nusa Tenggara Timur (NTT) sering dipahami sebagai wilayah yang masih mempertahankan budaya komunal yang kuat.
Nilai kekeluargaan, gotong royong, hidup bersama dalam kampung, serta ikatan adat dan agama telah lama menjadi fondasi kehidupan masyarakat.
Dalam banyak kesempatan, masyarakat NTT dikenal sebagai masyarakat yang tidak hidup sendiri, melainkan hidup dalam jaringan relasi yang erat. Namun, perubahan zaman menghadirkan kenyataan yang berbeda.
Urbanisasi, migrasi tenaga kerja, perkembangan teknologi digital, dan perubahan pola hidup generasi muda perlahan mengubah cara manusia membangun relasi.
Di balik kuatnya identitas komunal tersebut, muncul fenomena yang jarang dibicarakan secara serius: kesepian. Kesepian di NTT bukan lagi sekadar pengalaman seseorang yang hidup sendiri, tetapi dapat dialami bahkan ketika seseorang berada di tengah keluarga, komunitas gereja, atau keramaian media sosial.
Banyak orang tetap terhubung secara fisik dan digital, tetapi merasa tidak dipahami, tidak didengar, dan tidak memiliki ruang untuk mengungkapkan pergumulan hidupnya. Fenomena ini menunjukkan bahwa krisis relasi telah menjadi salah satu tantangan baru masyarakat NTT di era modern.
Fenomena kesepian saat ini menjadi perhatian global. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan berbagai penelitian internasional menunjukkan bahwa kesepian berhubungan dengan meningkatnya risiko depresi, kecemasan, stress kronis, bahkan gangguan kesehatan fisik.
Beberapa studi menunjukkan bahwa generasi muda justru menjadi kelompok yang paling rentan mengalami kesepian meskipun mereka merupakan pengguna teknologi digital terbesar.
Di Indonesia, data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan bahwa lebih dari tiga perempat penduduk telah terhubung dengan internet. Penggunaan media sosial menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, terutama di kalangan remaja dan kaum muda.
Namun berbagai penelitian juga menunjukkan adanya peningkatan masalah kesehatan mental pada generasi muda, termasuk perasaan kesepian, tekanan sosial, dan krisis identitas.
Dalam konteks NTT, tantangan ini memiliki karakteristik tersendiri. Tingginya angka migrasi tenaga kerja dari NTT ke berbagai daerah di Indonesia maupun ke luar negeri telah menyebabkan banyak keluarga hidup dalam keterpisahan yang panjang. Tidak sedikit anak yang tumbuh tanpa kehadiran salah satu atau kedua orang tuanya karena bekerja di luar daerah.
Selain itu, urbanisasi menyebabkan banyak kaum muda meninggalkan desa untuk melanjutkan pendidikan atau mencari pekerjaan di kota.
Di sisi lain, data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa NTT masih menghadapi persoalan kemiskinan yang relatif tinggi dibandingkan rata-rata nasional. Kondisi ekonomi yang sulit sering kali memaksa anggota keluarga untuk merantau demi mempertahankan kehidupan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Patrisius-Marcelino-Kaha.jpg)