Opini
Opini: Mimbar Digital
Ruang digital seperti kebun. Kalau semua buang sampah, ya bau. Tapi kalau tiap orang tanam satu bunga, lama-lama jadi taman yang asri.
Oleh: Wilfrid Babun, SVD.
Pegiat literasi, tinggal di Weetebula Sumba Barat Daya, NTT
POS-KUPANG.COM - Sekarang, mimbar tidak hanya ada di kantor, di aula, di ruang rapat, atau di gereja. Mimbar itu sudah pindah ke layar HP. Sebut saja Mimbar Digital.
Mimbar Digital itu ruang tempat siapa saja bisa bicara: apa dirasakan, berbagi yang dilihat, dialami, dan didengar. Malah di kamar mandi juga orang bisa share, dia bikin apa.
Juga orang tidak sungkan cerita isi kamar tidur. Berantem suami isteri pun,..! Nampaknya yang privasi sudah jamak jadi yang publik. Dan itu terasa biasa saja.
Kita bisa lihat dalam beragam bentuknya: status WhatsApp, video TikTok 30 detik, live Instagram, podcast di Spotify, sampai komentar di Facebook.
Intinya, kalau dulu orang harus berdiri di podium untuk omon-omon supaya didengar, sekarang cukup tekan “posting”.
Baca juga: Opini: Raja Ludwig II dan Pelajaran Tentang Kekuasaan
Banyak orang lalu tahu, oh di sini ada ini, di situ ada itu. Mungkin ini juga yang dibilang oleh Marshal MacLuhan itu: Global village?
Kenapa Mimbar Ini Penting?
Karena hidup kita sudah serba digital. Bangun tidur langsung cari hp saya di mana. Lalu dalam sekejap buka hp. Ada apa di sana. Mata melotot.
Saat makan kita scroll. Sampai lupa kalau kita lagi dengan teman. Mau tidur pun masih balas chat. Ada sempat posting, kalau dia sebel. Di gereja pun ada yang masih penjet hp dan kirim ke sana ke mari.
Data 2024 kasih tahu kita. Orang Indonesia rata-rata habiskan 6 jam 3 menit sehari di depan layar media digital.
Ini artinya, ruang publik yang paling ramai hari ini bukan di alun-alun Kota Tambolaka. Atau Natas Labar di tengah Kota Ruteng yang letaknya pas di depan kantor Bupati Manggarai.
Orang ramai pasar, tapi bisa lebih gaduh di kolom komentar dan beranda media sosial. Rasanya, tidak ada yang pakai bisik-bisik lagi sekarang.
Malah panggil anak, bisa gunakan ponsel: e Jabur kau di mana? Apalagi kalau suami yang punya hobi Jarum Super: Jarang di rumah suka pesiar.
Bayangkan kalau ruang kosong ini jauh dari suara yang baik. Berisiknya aduhai. Ruang yang penuh gosip, hoaks, ujaran kebencian. Aduh. Akibatnya kita langsung tahu. Orang gampang marah karena judul berita.
Keluarga retak karena salah paham di grup WA. Anak muda cemas karena mau pakai standar hidup di medsos.
Wilfrid Babun
Pater Wilfrid Babun
Mimbar Digital
Opini Pos Kupang
edukasi media sosial
Status Media Sosial
bijak bermedia sosial
Meaningful
| Opini: Raja Ludwig II dan Pelajaran Tentang Kekuasaan |
|
|---|
| Opini - Ketika Allah Menjadi Dalit: Menemukan Sang Ilahi dalam Jeritan Kaum Tertindas |
|
|---|
| Opini - Nilai Sinodalitas dan Ekspresi Iman Kristiani dalam Tradisi Tuku Badut Desa Silawan Belu |
|
|---|
| Opini - Eklesiologi Kontekstual dalam Media dan Realitas: Tantangan atau Peluang |
|
|---|
| Opini: Mengurai Benang Kusut Dilema Penerimaan Mahasiswa Baru |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Wilfrid-Babun-SVD-01.jpg)